Rasanya semua sepakat mencuri merupakan perbuatan yang diharamkan, karena mengambil barang milik orang lain tanpa izin itu jelas-jelas merugikan sang pemilik. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan agama, mencuri itu merupakan salah satu dosa yang akan dijadikan bahan pertimbangan masuk tidaknya seseorang ke dalam surga.

Namun, sebelum masuk ke surga atau neraka, jika aksi pencurian itu diketahui oleh orang lain, tak ayal ribuan bogem mentah bakal mendarat di wajah sang pencuri. Di beberapa tempat bahkan sang pencuri dimassa hingga meregang nyawa. Ngeri ah..

Ada sekian banyak alasan yang melatari suatu tindak pencurian, mulai dari ingin bertahan hidup sehingga terpaksa mencuri dan barang curian tersebut dijual kemudian uang hasil penjualannya digunakan untuk membiayai makan dan minum, hingga mencuri hanya untuk memenuhi hasrat serakah. Para koruptor tergolong pencuri jenis ini.

Namun ada juga aksi pencurian yang dilakukan tanpa alasan seperti yang dilakukan oleh para kleptomania. Maling jenis ini, tergolong suatu penyakit psikologis, yang bisa disembuhkan dengan menjalani terapi khusus tentunya.

Dari sekian banyak jenis dan motivasi mencuri, tidak banyak orang, atau memang tidak pernah ada yang membicarakan suatu bentuk pencurian yang saya sebut pencurian intelek yang termanifestasikan dalam bentuk pencurian buku. Jika Anda tersenyum seusai membaca kalimat yang baru lewat, berarti patut diduga Anda merupakan salah satu pelakunya.

Sepanjang masa kuliah dulu, cerita mengenai aksi pencurian buku tak lekang dalam keseharian saya. Yap, benar, dalam kesempatan ini saya mengakui bahwa saya setidaknya saat ini, merupakan mantan pencuri buku yang selalu beroperasi di perpustakaan fakultas tempat saya meraih gelar sarjana.

Setidaknya, ada beberapa teman seprofesi yang rupanya secara sendiri-sendiri melakukan operasi yang sama dan di tempat yang sama pula. Namun kali ini saya hanya mau berbicara tentang saya. Tapi jangan dulu berburuk sangka dengan mengira saya menggondol buku sebanyak satu rak. Tidak sampai sebanyak itu sih, tapi jumlahnya juga tidak sedikit.

Seingat saya, dulu, buku-buku yang menjadi korban penculikan tersebar mulai dari buku sastra, filsafat, sejarah, dan keilmuan seperti politik dan hubungan internasional. Motifnya cuma satu, saya ingin membaca buku-buku tersebut secara nyaman di kamar kost dengan posisi berbaring di kasur. Suatu posisi baca yang menurut banyak pihak bisa menyebabkan kelelahan pada mata yang berujung pada kacamata.

Kenikmatan membaca buku dengan posisi itu, sembari mendengarkan musik berirama lembut, sulit saya lakukan di perpustakaan kampus yang jam operasionalnya terbatas pula. Lagipula, jika saya membutuhkan suatu referensi untuk menulis esai, saya pun tidak perlu repot mencari buku-buku tersebut tersebut di perpustakaan karena sudah tersedia di kamar.

Jika ada teman yang bertanya alasannya, saya cukup mengatakan bahwa buku-buku tersebut bukan saya curi melainkan saya selamatkan dari rasa kesepian yang mencekam lantaran tidak pernah dijamah oleh mahasiswa lainnya di perpustakaan. Hal ini bertolak dari kenyataan bahwa minat baca di kalangan mahasiswa pun tidak tinggi-tinggi amat. Tapi, tentunya argumentasi saya itu hanyalah suatu upaya pembenaran semata.

Sebenarnya teknis pengelolaan buku yang dilakukan di perpustakaan turut andil dalam aksi-aksi penculikan buku yang saya lakukan. Buku tersebut tidak diberi barcode dan sensor yang bisa berbunyi jika buku melewati mesin pemindai sebagaimana perpustakaan modern saat ini. Alhasil, hanya dengan menyelipkan buku di balik baju yang agak kedodoran, buku-buku tersebut berhasil saya amankan.

Bukut-buku tersebut terus saya simpan hingga tamat kuliah dan bekerja. Kami baru bercerai ketika saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dari Yogyakarta, mencari suatu peluang penghidupan yang baru. Dengan berat hati, buku-buku itu, dan buku-buku lainnya yang saya beli, harus saya hibahkan ke sebuah yayasan islam yang mengelola beberapa perpustakaan. Secara keseluruhan, ada tiga kardus buku berbagai ukuran, mulai dari kardus rokok hingga kardus mie instan yang saya donasikan.

Di antara buku-buku yang saya hibahkan, terselip buku putih tentang Ahmadiyah yang berisi pembelaan para pengikut Mirza Ghulam Ahmad yang mengklaim diri sebagai the next prophet itu. Geli juga membayangkan para pembaca perpustakaan suatu yayasan islam menikmati buku tersebut.

Berbicara tentang pencuri intelek, saya jadi teringat dengan seorang pria yang kedapatan mencuri beberapa buah buku di toko buku Gramedia yang terletak di Mal Ambarukmo, Yogyakarta. Pria tinggi berkulit terang dan berkacamata dan nampak seperti orang baik-baik itu terpaksa harus mendekam di jeruji besi Polsek Depok Barat, sebelum akhirnya harus menjalani hukuman penjara beberapa bulan di LP Cebongan.

Selama dia ditahan di polsek, beberapa kali saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengannya, dan menjadi saksi ketika istrinya menangis tersedu-sedu saat jam bezuk tahanan. Tangisan bersedu sedan itu juga dikucurkan oleh pria itu ketika menyaksikan pemberian remisi kepada narapidana lain selepas upacara 17 Agustus.

Sekira dua tahun kemudian, secara tak sengaja saya berpapasan dengannya di Pasar Kuncen, Yogyakarta. Saat itu saya lupa siapa dia dan sebaliknya. Setelah berpapasan kami sempat berhenti sebentar, kemudian melanjutkan langkah masing-masing. Begitu tiba di parkiran, barulah saya ingat bahwa pria itu adalah mantan narapidana, seorang pencuri intelek sebagaimana saya.

Advertisements