Kekalahan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dalam Pilkada 2017 memang telah diprediksikan sejak sebulan sebelumnya oleh berbagai lembaga survei. Namun, berbagai lembaga survei itu tidak pernah memperkirakan raihan suara hanya mencapai 17%.

Pemilih di Jakarta memang mayoritas merupakan pemilih rasional yang lebih melihat visi-misi serta program kerja. Visi-misi dan program kerja Agus-Sylvi sebenarnya sama mengawang-awangnya dengan visi-misi dan program kerja Anies-Sandi. Namun, mengapa Agus-Sylvi bisa kalah sedemikian telaknya?

Semuanya terjadi karena kesalahan strategi yang diterapkan oleh pasangan itu, yang dimotori oleh SBY. Mantan presiden itu sejak akhir Oktober hingga November mengeluarkan beberapa statement yang intinya menaruh perhatian serius terhadap kasus dugaan penistaan agama yang ditudingkan kepada kandidat gubernur lainnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Saya menangkap senggolan-senggolan SBY itu merupakan upaya untuk menarik simpati pemilih islam. Setelah melepaskan sejumlah pernyataan, SBY juga menjalin kontak dengan orang-orang yang dianggap tokoh seperti mendorong Agus untuk menyambangi para tokoh Nahdlatul Ulama, hingga si mantan itu pun langsung menyambangi para tokoh islam lainnya seperti Habib Ali di Kwitang menjelang masa tenang sepekan silam.

Namun, sayang strategi yang dibangun itu tidak cukup mempan untuk meresapkan Agus ke dalam hati dan sanubari para pemilih tradisional di Jakarta. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena SBY tidak memiliki infrastruktur untuk bergerilya hingga ke kampung-kampung guna menyosialisasikan Agus kepada massa islam meski didukung oleh partai yang berlatar belakang islam.

PAN terlalu elitis dan tidak bisa diharapkan. PPP, sibuk dengan konflik internal sehingga mengikis militansinya sementara PKB tidak memiliki massa yang dominan di Jakarta yang mayoritas puritan selain karena tidak mendapatkan dukungan penuh dari DPP.

Selain itu, meski ini tidak signifikan, saya juga melihat para relawan pemenangan Agus-Sylvi yang masih muda-muda, kebanyakan berasal dari kalangan menengah atas yang militansinya masih seujung kuku. Hal ini diakui juga oleh kenalan saya di internal tim pemenangan.

Ibarat aktivitas memancing, umpan yang telah ditebarkan oleh SBY dengan harapan bisa mencaplok ikan, justru dimanfaatkan oleh Anies Baswedan untuk menyambar ikan-ikan tersebut, dalam hal ini massa islam.

Sentimen agama berupa dugaan penodaan agama yang dihembuskan SBY, justru dimanfaatkan oleh Anies dengan bantuan PKS guna membumikan nama kandidat nomor urut 3 itu kepada masyarakat. PKS, meskipun banyak kadernya yang hipokrit, punya kemampuan untuk bergerilya hingga ke gang-gang sempit perkotaan melalui jaringan dakwahnya.

Inilah yang menjadi kunci menjulangnya suara Anies-Sandi dalam pilkada kali ini sehingga memaksa penyelenggara pemilu harus menggelar putara kedua dan bikin Agus-Sylvi rela mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Jadi Agus-Sylvi kalah selain karena pemilih rasional yang tidak menemukan suatu hal yang menarik dalam visi-misi dan program, juga karena kesalahan strategi SBY yang tidak mengukur kemampuan dan terlalu percaya pada pendekatan elit.

Advertisements