Sebenarnya tidak ada hal baru yang diucapkan oleh Antasari Azhar hari ini seusai melaporkan dugaan rekayasa kasusnya ke pihak kepolisian. Dugaan bahwa Cikeas berada di balik rekayasa kasus pembunuhan Bos Rajawali Banjaran, Nazarudin Zulkarnaen yang mengaitkan Antasari sudah santer terdengar ketika kasus ini mencuat 2009 silam. Nyanyian Antasari ini hanya mengkonfirmasi berbagai rumor tersebut.

Mungkin yang agak baru adalah informasi mengenai kehadiran Hary Tanoesoedibjo yang datang ke rumah Antasari membawa misi dari Cikeas yang intinya meminta Aulia Pohan, mertua dari Agus Harimurti Yudhoyono, calon Gubernur DKI Jakarta dalam pemilihan tahun ini, tidak ditahan.

Disebutkannya nama Hary Tanoesedibjo membuka mata saya menjadi terang benderang mengapa media-media miliknya begitu getol menghajar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama. Media-media miliknya bertindak selayaknya corong Front Pembela Islam (FPI) untuk menyergap Ahok. Saya menduga, semoga saja salah, kedekatan antara Hary Tanoe dan Cikeas mendorong pihaknya untuk mengambil sikap menyerang Ahok yang menjadi saingan berat Agus Yudhoyono.

Lalu, apakah pihak kepolisian akan menyelidiki laporan rekayasan kasus Antasari tersebut? Saya yakin korps baju cokelat itu akan menindaklanjutinya lantaran kuatnya kehendak politik dari orang nomor satu di republik ini, Joko Widodo.

Beberapa pekan silam, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu memberikan grasi kepada Antasari yang kemudian datang ke Istana untuk menemui sang presiden. Sudah barang tentu dalam pertemuan itu Antasari membeberkan dugaan rekayasa kasusnya dan kemungkinan besar mendapatkan restu dari pimpinan untuk diteruskan kepada pihak kepolisian.

Jika sampai polisi mengusut tuntas kasus ini, maka bakal terungkap sebuah skandal besar yang melibatkan orang kuat, penguasa di masa lalu, juga semua penyidik di tubuh kepolisian sendiri, serta kejaksaan bakal disapu bersih.

Menarik untuk menyaksikan apa langkah yang akan diambil oleh Cikeas untuk mengelak dari dugaan bahwa pihaknya berada di balik rekayasa kasus tersebut mengingat sang bapak cukup reaktif ketika tersenggol sejumlah hal yang menurutnya sensitif.

Yang pasti, posisi ketua umum partai politik bergambar Mercy itu saat ini tengah berada di bawah angin. Akankah dia kembali berada di atas angin? Entahlah. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Bagaikan kepingan puzzle, gambaran terkait berbagai rangkaian peristiwa yang memanas sejak Oktober 2016 semakin utuh. Kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok hanyalah pintu untuk menghantam kekuataan yang lebih besar yakni Istana.

Mengapa Istana? Karena saya kembali menduga bahwa pihak sang mantan sudah mengetahui bahwa kenyamanannya akan terganggu dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Istana. Berbagai upaya pun bisa dilakukan termasuk, seperti apa yang dirumorkan, membiayai berbagai aksi protes yang disebut damai itu pada November dengan memakai front pembela sebagai tangannya serta didukung oleh para aktivis abal-abal yang kini telah disidik oleh kepolisian.

Sayang berbagai upaya tersebut sepertinya bisa diredam dengan baik oleh Istana dan kini saatnya melakukan counter attack yang mematikan melalui laporan dugaan rekayasa kasus Antasari. Yang saya khwatirkan, pihak sana tidak akan tinggal diam sehingga gejolak politik ini bakal mengakibatkan kekisruhan yang tidak diinginkan. Semoga saja apa yang saya risaukan ini tidak terjadi.

Advertisements