Pemilihan umum kepala daerah alias pilkada di DKI Jakarta rupanya bukan hanya menyedot perhatian seluruh warga Indonesia tetapi juga para penjudi. Iya benar penjudi yang suka mempertaruhkan uang.

Setidaknya situs 188bet.co.uk telah membuka taruhan pada kontestasi pilkada DKI Jakarta. Saya sendiri kurang paham mengenai taruhan judi online namun dari taruhan yang terlihat, para petaruh sepertinya bakal mendapatkan keuntungan berlipat jika memilih Agus-Sylvi atau Anies-Sandi dengan catatan salah satu dari dua kandidat itulah yang keluar sebagai kampiun.

Bahkan situs betbreakingnews.com, sebuah situs yang menampilkan berbagai data statistik judi menyatakan bahwa pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat memiliki kesempatan besar untuk mempertahankan singgasananya. Situs itu menyatakan peluang Ahok-Djarot mencapai 95,24%.

Situs ini bahkan telah mengikuti perkembangan pilkada DKI Jakarta dan persoalan dugaan penistaan agama sejak November 2016. Pada bulan itu, mereka melakukan analisis statistik apakah Ahok bakal terus melaju dalam pemilihan atau tersandung kasus hukum tersebut.

Saya yakin tidak sedikit warga Indonesia yang turut bertaruh melalui situs ini. Ya sah-sah saja jika mereka turut bertaruh, meski di Indonesia sendiri, perjudian masih merupakan suatu hal yang tabu dan memiliki konsekuensi hukum.

Yang patut diwaspadai, jangan sampai hanya karena ingin memenangkan pertaruhan, seorang bandar judi nekat menggelontorkan uangnya untuk mempengaruhi para pemilih dalam pilkada DKI Jakarta sehingga memilih kandidat yang dia jagokan. Dengan kata lain, politik uang bisa saja dilakukan oleh bandar, selain juga oleh tim sukses pasangan calon.

Sejatinya pertalian antara perhelatan politik seperti ini, dengan perjudian bukan merupakan hal baru. Di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, informasi itu sering didengan saat pemilihan kepala desa. Entah benar entah tidak, jika tertangkap tengah mempengaruhi calon pemilih untuk mencoblos salah satu kandidat, si pelaku selalu beralasan bahwa uang tersebut berasal dari botoh judi alias bandar yang tidak pernah diketahui siapakah orangnya.

Bisa saja bandar judi hanya dijadikan kamuflase untuk melindungi kandidat tertentu yang juga tengah bertarung memperebutkan jabatan kepala desa. Nyatanya, sampai detik ini praktik politik uang itu tidak bisa dilacak hingga ke akar-akarnya.

Itulah warna-warni pilkada. Terlepas dari semua itu, saya berharap pilkada serentak tahun ini, khususnya di DKI Jakarta, bisa berjalan lancar, aman, tertib dan damai. Semoga semua pihak bisa menerima hasil dari pilkada ini dan bergandeng tangan membangun ibukota.

Advertisements