liang lahat yang tak seberapa lebarnya itu

basah

bukan karena hujan semalam yang mengguyur tak henti

bukan karena peluh sang penggali

basah memerah



darah

darah

menggenang di liang



butiran debu di tepiannya meronta

menderu memanggil sebuah nama

lirih rindu mendekap seketika



oh mentari membakar ubun

panas menghujam genangan darah

mendidih



dan deru panggil bercampur teriakan

kian menggema

memanggil

meratapi

sebuah nama



“Taufik”

“Taufik”

“Bilakah kau berpulang”



“Taufik”

“Masih kenangkah kau akan kami”



darah

darah

muncrat di ujung penamu

menggenangi tiap lembar kertas syairmu

mengental di sela jemarimu



ingatkah kau akan semua ini?



Pondok Bambu, 31 Januari 2017

(Untuk Taufik Ismail)
Advertisements