Uban. Iya uban. Helai rambut memutih yang biasanya menghiasi kepala. Kehadiran uban sering diasosiasikan sebagai tanda bahwa usia sudah menanjak tinggi. Sebagian lain mengasosiasikan uban sebagai tanda kebijakan seseorang. Orang yang rambutnya beruban diidentikan dengan pemikir ulung nan keras.

Namun seringkali kepemilikan uban tidak serta merta terasosiasi seperti di atas. Ada teman saya, usianya belum genap seperempat abad namun uban sudah memenuhi kepalanya. Ada juga teman, yang usianya sudah mencapai kepala tiga, dan beruban tentunya, bukanlah seorang pemikir handal nan keras. Dia pun sering bertindak tidak bijaksana.

Ya itulah anomali-anomali mengenai perubanan. Ngomong-ngomong, persoalan uban sudah saya gauli sejak kecil. Sebelum sekolah malah. Ketika itu, seingat saya, Opa, baik dari pihak ayah maupun ibu sering meminta kami, para cucunya untuk mencabut uban yang mulai mewarnai kepala mereka. Agar kami semangat mencabuti uban-uban yang terselip di antara rambut hitam, biasanya Opa menjanjikan akan memberi uang 25 perak untuk setiap helainya.

Tergiur akan janji ala politisi itu, salah seorang sepupu saya pernah mengakali jumlah uban Opa dengan mencabuti bulu anjing yang berwarna putih. Begitu rekap uban dilakukan setelah sesi mencabuti uban, dia menang banyak. Sambil tersenyum, setelah menggenggam uang, dia berseloroh bahwa sebagian besar uban yang dihitung tadi merupakan bulu anjing dan langsung ambil langkah seribu membelanjakan uang kemenangannya itu. Sialan.

Saking akrab dengan uban sedari masih bocah, saya begitu memahami tekstur uban seperti apa. Selain berwarna perak, uban biasanya lebih tebal dan lebih pendek dari rambut yang masih hitam. Begitu dicabut hingga ke akar-akarnya, ada sensasi gatal yang luar biasa nikmatnya.

Dewasa ini, teknik mencabut uban sering menggunakan alat bantu berupa pinset (pingset?). Dijepit, dan cabut. Namun, seingat saya, dulu, sewaktu kecil, lantaran peredaran pinset sangat amat terbatas, kami mengakalinya dengan berbagai cara mulai dari menggunakan jari yang sering kali hasilnya tidak maksimal.

Cara lainnya menggunakan dua bela batu kecil. Caranya ya sama saja kedua belah batu kecil itu menjepit uban dan tarik. Lumayan juga meski kadang meleset. Ada juga teknik lainnya yakni menggunakan uang logam yang cara penggunaannya tidak jauh berbeda dengan menggunakan batu tadi.

Wow, rupanya wawasan saya tentang uban cukup memadai bukan? Ya inilah hasil dari pergelutan selama bertahun-tahun dengan si perak itu. Alhasil, menjadi cemerlanglah kita. Sama juga dengan wawasan lainnya yang jika digeluti bertahun-tahun maka akan melahirkan seorang ekspertis.

Bicara soal ‘mengidap’ uban, di antara teman-teman sebaya, saya tergolong paling dini menerima karunia Tuhan itu. Bayangkan kelas 5 SD, sudah ditemukan sehelai uban menghiasai kepala bagian kiri. Luar biasa. Konon kata ibu saya, uban tersebut disebabkan kebiasaan saya yang kerap berganti-ganti minyak rambut. Maklum saat itu menjelang puber, kami sering mengikuti gaya para kakak-kakak SMP dan SMA yang terlihat keren dengan rambut berminyak.

Seingat saya, uban perdana itu dicabut oleh teman sebangku saya, seorang perempuan. Aksi cabut uban itu segera disoraki oleh rekan teriakan teman-teman bernada membully seolah-olah kami berpacaran dan saling mengasihi. Sialan bocah-bocah itu.

Setelah jeda beberapa tahun, uban makin banyak mewarnai kepala saya ketika saya telah bekerja di Yogyakarta. Mungkin hal itu diakibatkan oleh seringnya saya mengenakan helm saat mengendarai sepeda motor sehingga rambut kehilangan zat pigmin dan berubah menjadi kelabu. Buktinya, ketika di Jakarta, intensitas penggunaan helm itu berkurang, uban tidak seramai seperti waktu di Yogyakarta.

Rupanya uban-uban itu mencari ladang baru untuk tumbuh dengan suburnya. Bukan di rambut, tapi di kumis dan janggut. Jumlahnya banyak dan sepertinya bakal bertambah di masa mendatang. Nasib..nasib.

Awalnya cuma sehelai dan itupun tidak langsung berwarna kelabu melainkan merah. Begitu melihatnya, terlihat cool selayaknya pria bule dengan kumis berwarna merah. Namun, seiring waktu warna merah itu berubah menjadi putih. Mati satu tumbuh seribu, dicabut yang satu, tumbuh pula yang lain sehingga akhirnya saya mengibarkan bendera putih, menerima nasib menanggung uban di kumis dan janggut.

Ya itulah nasib saya. Pria yang makin banyak ubannya. Mungkin karena usia sudah makin bertambah juga. Saya sudah berdamai dengan uban sehingga tidak merasa risih atau terganggung dengan kehadirannya.

Kini hari-hari saya dilalui dengan menikmati perubanan bulu-bulu di tubuh saya itu, sembari saban akhir pekan menyaksikan dua ipar saya duduk berbaris seperti anak kecil yang bermain kereta api sembari mencabuti uban-uban mereka. What a life!.

Advertisements