Dua hari ini perasaan saya seperti diaduk-aduk. Saya diguncang oleh kenangan masa lalu akan beberapa sosok yang kebetulan cukup saya kenal dengan baik. Mereka-mereka ini, ada yang sakit ada pula yang baru saja dipanggil Tuhan.

Mereka yang dipanggil Tuhan adalah Joy, adik tingkat semasa kuliah. Sedikit kenangan tentangnya telah saya tuliskan dalam postingan terdahulu. Hari ini, rencananya jenaazah almarhum akan dimakamkan di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain Joy, adapula Bang Ucok. Nama aslinya Romulus Sitanggang. Dia senior di kampus. Saya mengenalnya sewaktu kami sama-sama aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Kristiani Fisip (Himkrif) UPN Yogyakarta. Ketika itu, saban Sabtu, kami selalu berkumpul untuk beribadah dan sering terlibat dalam kegiatan organisasi lainnya seperti persiapan malam keakraban, natal atau paskah bersama dan valentine.

Pagi tadi, ketika mengecek laman facebook, saya mendapatkan informasi beliau telah berpulang setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena menderita sakit lambung dan tifus yang akut. Semoga Tuhan melapangkan jalannya.

Berbicara tentang Bang Ucok, yang terlintas dalam ingatan saya adalah candaannya yang mengocok perut. Iya, beliau bertipe humoris yang senang membahagiakan orang lain. Selamat jalan Bang Ucok.

Sosok lain yang kukenang adalah rekan seangkatan semasa kuliah dulu. Namanya Bayu. Akan tetapi, karena di kelas ada beberapa mahasiswa yang bernama Bayu, untuk membedakan dia dan Bayu lainnya kami memanggil dia Bayu stres.

Kata stres yang disematkan padanya punya sejarah. Waktu itu, ketika kami menjalani masa orientasi pengenalan kampus, semua mahasiswa wajib mencukur rambutnya hingga cepak. Maklum, UPN saat itu masih beraroma militeristik. Nah, si Bayu ini menolak untuk mencukur rambutnya sehingga sebagai sanksi, rambutnya dicukur secara alakadar alias tak rapi sama sekali.

Normalnya, jika rambut kita dicukur seperti itu, kita langsung pergi ke tukang cukur untuk merapikan rambut kita. Namun hal itu tidak dilakukan oleh si Bayu. Dia tetap membiarkan rambutnya tercukur tak rapi semacam itu. Atas dasar itulah kami pun memanggilnya Bayu stres.

Masih segar dalam ingatan, dia pernah mengajak saya untuk bertandang ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari ex Terminal Umbulharjo Yogyakarta. Saat itulah saya mengetahui bahwa bapaknya sudah mendahului dan ibunya merupakan seorang dosen di Fakultas Kedokteran UGM. Bayu merupakan bungsu dari dua bersaudara.

Di kampus, Bayu yang satu ini aktif dalam salah satu kegiatan kemahasiswaan yakni kepalangmerahan. Saat pelaksanaan orientasi pengenalan kampus, dia bertindak selaku tim medis yang siap merawat para mahasiswa/i baru yang jatuh sakit. Dialah orang yang mengajarkan saya cara mendeteksi denyut di pos nadi dengan menggunakan jari-jari tangan kiri.

Setelah sama-sama menamatkan kuliah, komunikasi dengannya terputus. Hingga suatu ketika, saat saya sudah bekerja di Yogyakarta, tanpa sengaja berjumpa dengannya. Saat itu, dia bercerita tengah mengikuti kursus persiapan kerja di kapal pesiar. Selepas itu, kami tak pernah berkomunikasi sama sekali.

Kemarin, atas informasi dari salah seorang adik tingkat semasa kuliah dulu, diperoleh keterangan bahwa Bayu stres saat ini menderita sakit diabetes. Dia tidak bekerja dan tiap hari hanya beristirahat di rumah.

“Kalau kamu ke Yogyakarta, mampirlah, tengok dia,” begitu kata Surya, sang pemberi informasi.

Saya terhenyak. Ya ampun, Bayu. Seperti inikah nasibmu sekarang? Tetap semangat bro. Jaga kondisimu selalu ya. Saya akan mendoakanmu selalu.

Advertisements