Malam minggu kemarin, tidak jauh berbeda dengan malam minggu yang sudah-sudah. Saya memilih untuk mendekam di rumah, menemani keluarga menikmati kebersamaan yang mahal karena sering terbenam dalam aktivitas kerja.

Kebersamaan itu kami isi dengan bercengkrama tentang apa saja, mulai dari pembangunan rumah yang hampir selesai, hingga hal-hal lucu yang ditemui di lokasi kerja. Akan tetapi selang sejam kemudian, keasyikan tersebut harus terhenti karena kami sama-sama mengarahkan pendengaran pada sebuah ceramah keagamaan yang terlontar dari pengeras suara sebuah rumah ibadah di belakang tempat tinggal kami.

Di ujung mikrofon, sang penceramah menceritakan pengalaman saudarinya yang terpaksa harus meninggalkan Singapura dan kembali ke Indonesia, meninggalkan anaknya di sana, karena merasa terkekang saat menjalankan ibadah keagamaan. Salah satu hal yang parah adalah pemerintah Negeri Singa itu melarang penggunaan pengeras suara untuk memanggil umatnya beribadah.

Dia menilai pengekangan itu bisa terjadi karena negeri tersebut dipimpin oleh pimpinan yang tergolong kafir, lantaran tidak sealiran agama dengan sang penceramah, dan kerabatnya di Singapura itu. Lantaran hal itulah, dia mewanti-wanti kepada para umat yang hadir dalam kegiatan keagamaan itu untuk tidak memilih pemimpin kafir.

“Jangan sampai kita akan mengalami hal yang dialami oleh kerabat saya itu,” ujarnya.

Dilihat dari tema kotbah, atau kampanye tepatnya, beserta contoh yang dia sebutkan perihal Singapura, saya meyakini dialah penceramah yang sama pada Hari Jumat, beberapa waktu silam. Ya dari balik kamar kecil rumah tempat tinggal, saya yang asyik nongkrong dan melakukan kegiatan ekspor mendengarkan secara jelas ajakannya untuk tidak memilih kandidat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang, you know who-lah.

Mednengar ceramah keagamaan semacam itu, saya jadi teringat akan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat di mana saya menghabiskan 1,5 tahun waktu untuk mencari nafkah. Berbagai ceramah keagamaan yang sering tak sengaja saya dengar, selalu mengajak umatnya untuk berbuat kebaikan terhadap sesama.

Jarang, atau mungkin memang tidak pernah saya mendengar ada penceramah yang dari awal hingga akhir kotbah hanya mengajak umatnya untuk tidak menjatuhkan pilihan politik pada seseorang atau suatu partai politik, menjelang pemilihan umum.

Agama, yang sejauh ini memang sanggup menghimpun massa (umat) dalam jumlah yang besar, terlihat empuk bagi aktor-aktor politk sehingga tangan mereka berupaya menggapai agama dengan harapan bisa memobilisasi massa untuk meraih tujuan-tujuan tertentu, salah satu contohnya meraih suara dalam pemilu.

Karena itu, daya nalar dan kritisisme dari umat dibutuhkan di sini untuk menelaah kebenaran suatu ceramah keagamaan. Jika ceramah itu bertolak belakang dengan hati nurani, ikuti saja apa kata hatimu. Percayalah, tidak menelan bulat-bulat kotbah dari pemuka agama tidak membuat kita masuk neraka karena surga atau neraka merupakan suatu hasil dari perbuatan kita di dunia.

Advertisements