Ayah dan Foto Wisuda

Sekitar sebulan silam, ada pesan singkat yang berasal dari adik saya yang tinggal di Yogyakarta. “Mau kirim foto wisuda. Bapa pesan sekalian kirim dengan foto wisuda kakak,” ujarnya.

Butuh waktu beberapa menit untuk membalas pesan itu. Setahu saya, dulu foto wisuda resmi yang diberikan pihak kampus dengan pose pemindahan tali toga oleh dekan, sudah saya berikan kepada ayah lengkap dengan klise negatifnya.

Namun, sepertinya negatif foto tadi tercecer sehingga satu-satunya orangtua yang tersisa dalam keluarga kami itu tidak bisa mencetak versi ukuran besar sekitar 10R untuk dipajang di dinding ruang keluarga. Dua foto wisuda kakak saya sudah terpampang dan kini dilengkapi lagi dengan foto adik yang belum lama ini diwisuda.

Istri saya kemudian mencari-cari arsip foto wisuda saya yang dijepret oleh teman menggunakan kamera semi otomatis. Sebuah foto dirasa paling pas karena saya berpose di belakang karangan bunga ucapan selamat atas dari kampus bagi mahasiswa/i yang telah diwisuda.

Beruntung, sebuah studio foto di sekitar tempat tinggal bersedia mencuci foto itu dalam ukuran 10R. Saat ini, di tengah rimba digitalisasi fotografi, studio yang menerima jasa cuci negatif film bisa dikatakan tinggal hitungan jari.

Beberapa hari kemudian foto itupun tercetak namun rupanya agak buram. Apa boleh buat, foto itupun dikirimkan jua. Melihat foto itu, pita rekam memori mulai memutar momen-momen wisuda saya, bertahun lampau.

Saat itu, dengan uang yang terbatas, saya harus mengikuti seremonial itu. Karena itulah, saya hanya mampu membeli sebuah rol film yang kemudian dijepret oleh seorang teman menggunakan kamera semi otomatisnya. Mungkin karena komposisi dua lensanya terkadang tidak padu, ada beberapa foto yang buram.

Karena alasan keterbatasan uang itulah, saya berlalu begitu saja seusai upacara wisuda, ketika ada seorang juru potret yang menawarkan jasa foto di studio semi permanen yang berderet di depan auditorium.

Tidak ada perayaan meriah yang jamak dilakukan oleh wisudawan/wati. Agak meriah pun tidak. Bersama teman yang sama, kami menumpang sepeda motor pinjaman menuju ke sebuah rumah makan Manado yang menjajakan masakan daging anjing super pedas. Setelah kenyang, kami pun pulang, tidur, dan besok mulai merangkai hidup sebagai seorang pengangguran. Beruntung saya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.

Saya berharap foto agak buram yang saya kirimkan ke ayah masih cukup layak untuk disandingkan dengan foto-foto wisuda tiga saudara saya. Kira-kira, dipajang di dinding sebelah mana ya?

Bagi ayah, foto wisuda anak-anaknya bukan sekedar memorabilia semata. Foto wisuda baginya, menurut persepsi saya, adalah salah satu tanda keberhasilannya mendidik putra-putrinya hingga mencapai tingkat pendidikan yang jauh melampaui pendidikannya.

Ya menyekolahkan anak-anak hingga sarjana menjadi cita-cita ayah dan almarhumah ibu. Suatu jenjang pendidikan yang tidak sempat mereka capai, karena beragam alasan.

Bisa dibilang, ayah kurang beruntung untuk urusan kuliah. Sebagai seorang anak guru di daerah terpencil, tentu tidak cukup dana yang bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang sarjana. Berbekal kenekatan, dia kemudian merantau ke Surabaya dan mendaftar di sebuah akademi pelayaran.

Untuk membiayai kuliah, ayah mesti banting tulang bekerja serabutan, salah satunya menjual pakaian. Foto-foto serta sertifikat semesteran masih tersimpan dalam album dan file dokumen keluarga yang gemar saya pandangi sewaktu masih kanak-kanak.

Sayang seribu sayang, ketika tengah mengikuti praktik kuliah terakhir di Pelabuhan Tenau, Kupang, ayah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di Surabaya karena dibebani tanggung jawab oleh orangtuanya untuk membiayai sekolah dua orang adiknya.

Setelah menikah, gairah ayah untuk mengenyam pendidikan sarjana tak luntur jua. Dia pernah mendaftarkan diri ke Universitas Terbuka (UT). Setelah mendaftar, ayah sempat dikirimi modul perkuliahan dan dengan lahap dipelajari olehnya.

Sayang, hal itu hanya berlangsung beberapa semester. Kiriman modul kemudian berhenti padahal ayah sudah meweselposkan biaya perkuliahan. Segala upaya untuk mempertanyakan tidak kunjung membuahkan hasil yang memuaskan. Kesal dengan ketidakjelasan itu, ayah kemudian melayangkan keluhan melalui rubrik surat pembaca di surat kabar.

Selepas itu, sepertinya keinginannya untuk berkuliah telah pupus berganti menjadi tekad menyekolahkan anak-anaknya menjadi seorang sarjana. Mulailah dia bekerja keras, dan tetap hidup sederhana demi anak-anaknya.

Masih terngiang di telinga suara gembira ayah di ujung telepon setelah menerima kiriman hasil studi semesteran saya. Nada-nada bersemangat terlontar sewaktu dia membaca nama mata kuliah beserta nilai yang saya peroleh.”Bapa senang prestasi belajarnya bagus,” begitu kira-kira ucapannya hampir 13 tahun silam.

Ah rupanya hari sudah larut. Arus lalu lintas terlihat lancar dari lantai 7 tempat saya bekerja. Waktunya pulang, menapaki jalanan sembari memanggul ribuan rindu pada ayah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s