Pastor dan Awam Yang Ceroboh

Di dunia ini, ada dua profesi yang patut saya menurut saya patut diacungi jempol. Yang pertama adalah profesi di bidang kemiliteran. Seorang prajurit rela bertaruh nyawa demi nusa dan bangsanya. Siapa yang tidak salut dengan pengorbanan seperti itu?

Profesi berikutnya adalah menjadi rahib seperti kaum biarawan dan rohaniwan katolik serta budha. Karena bukan penganut budha, baiklah saya tidak ingin berdiskusi lebih jauh mengenai para rahib dari agama yang disebarkan oleh Sidharta Gautama itu.

Biarawan atau rohaniwan katolik kerap juga disapa kaum klerus. Merekda terdiri dari pastor yang diurapi untuk menjadi imam serta bukan pastor, dalam hal ini suster, bruder dan frater kekal yang tidak menerima sakramen imamat, tapi mereka turut terlibat secara aktif dalam karya kerasulan di bidang pendidikan, kesehatan dan bidang social lainnya.

Berbincang soal pastor kita sampai pada klasifikasi biarawan dan rohaniwan. Biarawan adalah para pastor yang berasal dari ordo-ordo tertentu. Mereka terikat pada aturan ordo sehingga bisa saja bertugas di berbagai tempat di mana ordo itu berkarya. Ada begitu banyak ordo yang bisa disebut seperti Serikat Yesus (SJ) atau Serikat Sabda Allah (SVD).

Sementara pastor bukan biarawan adalah para imam projo diosesan. Mereka hanya terikat pada satu gereja lokal atau keuskupan, tempat mereka berkarya. Karena mereka bukan kaum biarawan, mereka-mereka ini disebut rohaniwan. Para imam jenis ini diperbolehkan memiliki hak milik pribadi meski dalam jumlah tertenu.

Menjadi pastor bukanlah suatu hal yang mudah dan membutuhkan proses pendidikan. Awal mula, seorang calon imam harus menjalani pendidikan novisiat, kemudian mengikat kaul, menjalani pendidikan filsafat, melakukan tahun orientasi pastoral di tengah umat, lalu, menjalani pendidikan teologi, mengikuti tahbisan diakon, kemudian ditahbiskan menjadi pastor oleh seorang uskup.

Butuh waktu 12 hingga 13 tahun untuk menjalani semua proses-proses itu. Seringkali, di tengah perjalanan, seorang calon imam memutuskan untuk menarik diri atau tidak melanjutkan cita-citanya seperti semula. Ada beragam alasan untuk mengambil keputusan, namun tidak sedikit yang memilih menjadi kaum awam lantaran faktor wanita.

Ya menjadi seorang imam katolik berarti harus menjalani hidup selibat, tidak kawin dan juga tidak menikah. Karena itu, seringkali para calon imam memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan calon imamnya lantaran tersandung hal-hal duniawi semacam itu.

Akan  tetapi ketersandungan bukan hanya milik para calon imam semata. Para pastor, yang notabene sudah ditahbiskan pun tidak sedikit yang terjungkal di lubang yang serupa. Jika hal ini terjadi, menurut hemat saya hal itu disebabkan oleh kesalahan sang pastor sendiri, serta kecerobohan kaum awam yang memiliki hubungan dekat dengan pastor itu.

Pastor juga manusia biasa seperti kita semua. Mereka memiliki naluri-naluri untuk mencintai dan menyayangi. Menurut hemat saya, ada baiknya sebagai awam kita semua, khususnya kaum hawa tidak menunjukkan kedekatan dan kemanjaan yang berlebih. Siapa sangka kedekatan itu bisa berbuah petaka di mana sang pastor di kemudian hari memutuskan untuk meninggalkan imamatnya? Bukankah tuaian banyak tetapi pekerjanya sedikit?

Tidak pada tempatnya menurut saya, seorang wanita menjadikan pastor sebagai tempat curahan hatinya saat sedang mengalami kegalauan. Saya kerap mendengar keintiman itu berawal dari persoalan curhat yang kemudian menjurus menjadi intim dengan embel-embel kangen dan sayang, meski dalam koridor persaudaraan sekalipun.

Saya 200% sepakat para pastor itu juga manusia yang butuh teman bercerita. Tapi mendengarkan cerita mereka, bukan berarti kita sebagai awam harus bermanja-manja di hadapan mereka bukan?

Entah disadari atau tidak, hal-hal yang melintas batas seperti itu kerap dilakukan oleh para awam, dengan atau tanpa mereka sadari. Hendaknya para penganut katolik senantiasa memahami posisinya masing-masing sehingga bisa mengontrol pola komunikasi antara awam-klerus.

Tulisan ini merupakan bahan permenungan yang sudah bertahun-tahun saya pikirkan. Tidak ada salahnya juga jika saya u tarakan di sini bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s