Menikah

Hari ini saya baru saja mengikuti sebuah perhelatan pernikahan secara adat Betawi. Seumur-umur, baru kali inilah saya mengikuti secara langsung pernikahan sesuai dengan adat kebiasaan khas masyarakat asal ibukota ini.

Ceritanya, yang menikah ini adalah induk semang, pemilik kost-kostan tempat saya bernaung. Mau tak mau, saya wajib menghadiri acara ini karena sang pemilik kost sudah saya anggap seperti keluarga sendiri.

Soal prosesi pernikahan secara Betawi tidak akan saya bahas lebih jauh. Saya tersentuh dengan adat resepsi pernikahan yang digelar sederhana, menurut saya. Makanan prasmanan dengan variasi seperti nasi, sambel kentang, sop dan semur daging ditambah segerobak bakso yang terparkir di halaman depan rumah yang sempit.

Meski sederhana, resepsi pernikahan yang digelar sejak pagi hingga sore hari itu berjalan meriah. Banya tetamu undangan yang datang dan diiringi sebuah band yang kerap membawakan lagu Koes Plus dan rock n roll lainnya.

Berbicara tentang pernikahan yang sederhana, sepanjang hidup saya, hanya ada dua pernikahan yang mengurut hemat saya sangat sederhana menjurus prihatin baik dari sisi persiapan maupun perayaannya.

Pertama, pernikahan antara Opa dan Oma saya sendiri, orangtua dari mama. Mereka menikah kala Perang Duni II tengah berkecamuk yakni pada 1944 di Larantuka, Flores Timur, tepatnya di Kapela Susteran SSpS Balela. Prosesi pernikahan itu dipimpin oleh Pastor Gabriel Manek, yang kelak menjadi uskup di Larantuka dan Ende.

Karena dihelat pada zaman susah, tentu saja resepsi kala itu sangat memprihatinkan. Sesuai pemberkatan oleh pastor, kedua mempelai dan keluarganya diundang untuk bercengkrama dengan para suster di beranda biara dengan hidangan kue dan kopi. Setelah itu, pulanglah mereka sebagai pengantin baru.

Pernikahan kedua, terjadi sekira 2004 di Yogyakarta, kala saya masih menempuh pendidikan sarjana. Mempelai wanitanya, merupakan kerabat dekat, selevel dengan orangtua saya sehingga pantas disebut tante. Tapi karena usianya tidak terlalu terpaut jauh, maka kami biasa memanggil dengan sebutan kakak.

Pihak keluarga dari mempelai wanita hanyalah saya dan kakak kandung saya. Pernikahan yang terjadi jauh dari kampung halaman itu sangat sederhana, hanya digelar di sebuah rumah kontrakan di kawasan Perumnas Condongcatur, Depok, Sleman, dengan hidangan nasi, ikan dan sayur.

Tidak ada tata urutan acara. Kami hanya berkumpul, menyantap makanan, kemudian bertukar cerita. Setelah itu, pulanglah kami dalam damai, dengan perut kenyang, dan rasa prihatin mengingat tiada orangtua dari kedua belah mempelai yang hadir.

Menikah itu sejatinya sederhana. Pertama-tama, siapkan bathin, kemudian prosedur sesuai agama yang dianut serta prosedur hukum dan administrasi kependudukan. Yang bikin ribet, adalah resepsi yang merupakan ajang sosial.

Harus menyiapkan lokasi pesta, kadang gedung mewah bertarif puluhan juta, katering dan souvenir untuk para tetamu, hingga tata urutan acara yang bervariatif. Semua bermuara pada satu kata, ribet.

Saya jadi teringat perkataan usil dosen sewaktu kuliah dulu. Menikah adalah upaya menjustifikasi keinginan manusia untuk berhubungan intim. Bisa diperdebatkan memang, tapi menurut hemat saya, jika kita berpikir secara radikal, sampai ke akar-akarnya, omongan warung kopi dosen saya itu ada benarnya juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s