Mengenang Mereka yang Berpulang

Akhir-akhir ini, kabar kematian orang-orang yang kebetulan saya kenal, cukup sering menghampiri. Reaksi pertama, tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan, adalah kaget. Tapi sejurus kemudian, saya memaklumi dan berserah diri. “Sudah takdir dari Tuhan,” bathin saya.

Pada Februari ini, ada setidaknya empat orang sepuh yang berpulang. Dua di antaranya saya kenal cukup dekat sehingga artikel ini saya dedikasikan khusus untuk mereka berdua. Mereka adalah Pakde Joni, oom dari kakak ipar saya serta simbok, nenek dari tunangan saya.

Berbicara tentang Pakde Joni, saya memang tidak terlalu sering bertemu dengannya. Namun dalam dua pertemuan, saya mendapat kesan yang sangat baik tentang pria yang berasal dari Seyegan, Sleman, Yogyakarta itu.

Bicaranya lantang dan tegas. Maklum, dia mengabdikan diri sebagai PNS pada institusi kepolisian khususnya di Polda Metro Jaya. Setelah pensiun, dia berdomisili di Solo dan sesekali pulang ke Seyegan.

Saya teringat suatu ketika, dia pernah menelpon dan menanyakan kabar serta mengomentari sebuah buku karangan kakak saya, yang kebetulan dalam proyek itu, saya bertindak selaku editor. Dalam percakapan itu, saya diajak untuk datang ke Seyegan. Namun, ajakan itu tidak pernah saya genapi karena terbelit berbagai kesibukan sewaktu masih berada di Yogyakarta maupun setelah hijrah ke Jakarta.

Pekan lalu, saya dikabari oleh kakak bahwa Pakde Joni berpulang, secara tiba-tiba. Mungkin akibat serangan jantung. Pria yang terlihat bugar itu pergi untuk selamanya dan kenangan singkat tentang dirinya, tetap membekas dalam sanubariku.

Lain lagi dengan Simbok atau Mbok’e nenek dari tunangan saya. Perempuan renta itu meninggal beberapa hari silam, setelah selama beberapa bulan ini tak bisa beranjak dari tempat tidur. Terakhir kali saya berjumpa dengannya, pada September 2014, dia masih bisa berjalan hilir mudik ke kamar mandi.

Tidak ada yang mengetahui usia Simbok. Tempo dulu tata administrasi kependudukan belum serapi saat ini. Yang bisa diingat adalah Simbok lahir pada Jumat Pahing, menurut kalender jawa.

Garis tangannya juga tidak seberuntung orang-orang lainnya. Pasalnya, dari semua saudara-saudarinya, hanya Simbok saja yang tidak pernah mengenyam pendidikan dan dia buta huruf hingga akhir hayatnya.

Meski tidak berpendidikan, Simbok yang asli Klaten itu merupakan pribadi yang ulet. Dia tekun menjalani hidup dan profesi mulai dari bertani hingga berdagang. Sewaktu tunangan saya masih balita, dia ingat persis bagaimana keuletan Simbok berdagang telur ayam di pasar.

Kini Simbok juga telah berpulang. Semoga dia ditempatkan oleh Yang Kuasa di sisi kanan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s