Resensi Novel Menikahlah Denganku

Pernikahan dan Cinta Yang Berliku

Menikah adalah suatu proses pengesahan relasi antara dua hati yang ingin bergumul sehidup sehidup-semati di masa mendatang. Prosesnya sebenarnya bisa dilakukan secara sederhana tapi belakangan diperumit oleh manusia lewat konsep resepsi, pernak-pernik, bahkan melalui perasaan cinta bisa sirna dan muncul.

Itulah pesan moral yang tertangkap dalam novel berjudul Menikahlah Denganku karya Annisa Andrie, mantan jurnalis yang banting setir menjadi full time mom serta penulis fiksi. Buku ini masuk dalam genre wedding lit yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Yogyakarta.

Novel kedua, namun terbit terlebih dahulu milik Annisa ini berkisah tentang Jenna, seorang anak tunggal yang menyiapkan sebuah pernikahan spesialnya dengan Satura, pemuda gondrong pujaan hatinya.Picture 695

Karena merupakan pernikahan yang dianggap suci, Jenna ingin resepsinya digelar secara unik, termasuk pernak pernik desain ruang resepsi, pakaian dan suvenir. Hal itulah yang mengakibatkan ia berselisih paham dengan orangtuanya yang merasa konsep tersebut konyol dan di luar kebiasaan.

Akhirnya Jenna dan Satura memutuskan untuk membiayai dan mengusahakan secara independen, segala persiapan pernikahan mereka. Suatu proses yang rumit dan melelelahkan.

Saat hari pernikahan kian dekat, rupanya Satura secara diam-diam menggunakan tabungan persiapan pernikahan untuk keperluan bisnis modifikasi modil off-road tapi belakangan bangkrut karena tertipu rekan bisnisnya.

Ingin menghilangkan kepenatannya, Satura kemudian memilih memanjat tebing dan mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan kelumpuhan. Kenyataan yang tidak bisa diteirma olehnya dan menghadirkan kesuraman dalam hidupnya.

Satura kemudian mengacuhkan Jenna yang selalu berusaha hadir untuk menemani hari-hari kelam pria tersebut. Belakangan, hidup Satura kembali bergairah karena kehadiran Safia, teman masa kecilnya.

Jenna yang cemburu kemudian berusaha melupakan Satura. Tidak butuh waktu lama mereka kembali menyatukan kepingan perasaan yang sempat hancur. Namun di saat-saat akhir, Satura kembali berubah pikiran dan tidak ingin menikahi Jenna karena kondisi fisiknya yang meski sudah berangsur pulih tapi belum optimal.

Di saat itulah Rigel, sahabat karib Jenna yang selama ini mengetahui persis perjalanan cinta Jenna dan Satura mengutarakan perasaannya yang selama ini sealu terpendam. Singkat kata, tawaran hati Rigel itu diterima Jenna dengan tangan terbuka.

Annisa Andrie terlihat pintar memainkan plot sehingga cerita ini menjadi sulit diduga. Kita sebagai pembaca selalu dibumbui rasa penasaran, bakal seperti apa akhir dari novel ini. Ternyata, dia sukses mengelabui perkiraan saya yang semula dengan perasaan angkuh mengira sanggup menebak akhir cerita tersebut.

Pengetahuannya di bidang video editing, modifikasi otomotif hingga spot pendakian serta climbing pun begitu mempesona. Lumayan detail dan lengkap sehingga mampu membangun imajinas cerita yang terbilang utuh.

Akan tetapi, selayaknya gading, ada hal yang retak dan perlu dikritisi terkait isi novel ini secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, menurut saya, isi cerita dari novel ini tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah sinetron lepas alias flim televisi yang marak menghiasi layar kaca saban hari. Kisah cinta yang pada awalnya ribet, tetapi akhirnya berakhir bahagia.

Banyak sudah sinetron Indonesia yang menampilkan cerita dua sosok berlainan jenis yang awalnya hanya berteman biasa, tetapi kemudian menjalin kisah asmara. So, dari cerita, menurut saya tidak ada sesuatu yang benar-benar baru.

Ada bukti lain novel ini mirip dengan sinetron Indonesia? Lihat saja begitu banyak tulisan bercetak miring yang secara pribadi saya mengartikan sebagai perkataan dalam hati. Bukankah sekarang banyak adegan berbicara dalam hati dalam sinetron kita?

Dalam hal karakter tokoh pun, menurutnya ada hal yang mengganggu. Ibu Jenna, awalnya digambarkan sebagai wanita yang juga keras selayaknya ayahnya Jenna, dalam adegan pertengkaran terkait konsep pernikahan. Perhatikan paragraf pertama halaman 32. “Tulang rahang ayahnya tampak mengeras, tak jauh berbeda dengan ibunya. Tekanan dalam bola mata wanita itu bertambah”.

Akan tetapi, sesudah itu, karakternya berubah menjadi seorang wanita yang bijak dan berupaya menjadi ibu yang selalu berusaha hadir dan menjadi muara tumpahan emosi putri tunggalnya tersebut. Menurut saya, jika sedari awal karakter tersebut konsisten dijalankan, tentu warna cerita bisa berbeda.

Anissa juga terlihat tidak rapi menyelipkan beberapa tokoh dalam tema besar cerita. Ayah Satura yang kerap disapa Om oleh Jenna baru muncul saat Saturan kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Kemana dia sebelumnya? Bukankah lebih manusiawi memasukkannya sejak awal dan melakukan interaksi dengan Jenna yang notabene merupakan calon menantunya?

Akan lebih menarik lagi jika tokoh ayah dijadikan rekan diskusi Satura saat dia hendak melakukan proyek modifikasi 30 unit mobil yang berujung pada penipuan? Bukankah dari para sesepuh kita bisa meminta wejangan sehingga tidak salah melangkah?

Tokoh tambahan seperti beberapa orang karyawan-karyawati Clipper pun belakangan dimassukan ke dalam cerita. Jika sejak awal mereka turut diselipkan, tentunya cerita tentang Clipper tidak hanya melilu antara Jenna, Rigel dan Freddy sang bos bukan?

Annisa pun kurang mendramatisasi cerita. Ambil satu contoh, saat Satura dirawat di rumah sakit, tidak ada dialog yang menggambarkan kecemasan orangtua Jenna terhadap calon menantunya. Contoh lain, kegalauan hati Jenna saat Satura mulai acuh terhadapnya, tidak didramatisasi dengan melakukan dialog antara Jenna dan ibunya. Seberapa tegar seseorang, tentunya orangtua menjadi pilihan yang bijak untuk bercerita bukan? It’s common sense.

Dramatisasi juga tidak terlihat ketika Satura secara tiba-tiba kembali memutuskan untuk mundur dari pernikahan setelah bersusah payah menaiki Semeru demi mendapatkan mahar pernikahan berupa rangkaian bunga.

Ujug-ujug, pembaca kaget ketika Satura dan keluarganya tak muncul saat pernikahan hendak digelar. Alasan mundur pun baru terlontar saat dialog antara Satura dan Rigel. Ada kesan kuat, sang penulis ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita dan lupa akan detail yang justru memnberikan warna secara keseluruhan.

Konflik-konflik dalam cerita ini pun menurut saya terasa kurang smooth. Setiap terjadi konflik, tokoh utama dalam cerita ini selalu memilih cara melarikan diri. Konflik pertama antara Jenna dan orangtuanya, diakhiri dengan Jenna yang pergi begitu saja untuk menemui Satura.

Konflik lainnya, ketika, Satura mulai menemukan gairah hidup lantaran kehadiran Safia, Jenna yang sakit hati menghilang ke rumah neneknya di desa. Dalam rangkaian ini, Jenna yang juga berkonflik dengan bosnya, memilih mengundurkan diri begitu saja tanpa kita ketahui apakah sudah menyelesaikan kewajibannya membayar 75% kerugian proyek akibat kecerobohannya.

Seingat saya, dalam pelajaran bahasa dan sastra di zaman SMA, setiap terjadi konflik, ada setting cerita yang menggambarkan dari titik puncak perseteruan, perlahan turun ke titik yang lebih landai. Tapi dalam novel ini, setiap terjadi konflik di puncak kurva, ceritanya langsung terjun bebas dengan upaya melarikan diri tersebut.

Dari sisi riset cerita, walau terhitung matang dalam mendeskripsikan tentang pekerjaan videografer, modifikasi otomotif, atau Semeru, novel ini terlihat timpang saat cerita tentang adegan di rumah sakit saat Jenna tiba untuk menjenguk Satura.

Dalam cerita, Satura ditangani dokter di ruang ICU. Perlu diketahui, ICU bukan ruang tindakan sehingga jika seorang pasien ditangani dokter maka itu adalah di ruang UGD atau operasi. Setelah itu, untuk memantau kondisi pasien, pihak rumah sakit memasukkannya ke ICU.

Annisa juga terlihat kurang riset mengenai hal medis lainnya yakni penjelasan mengenai kelumpuhan Satura. Semestinya ada dialog penjelasan dari dokter yang menceritakan kondisi fisik Satura, bagian syaraf manakah yang terganggu dan sebagainya. Semua itu bisa diperoleh jika melakukan riset bukan?

Belum lagi hal-hal kecil semisal menaiki kereta api dari Yogyakarta ke Malang melalui Stasiun Lempuyangan. Sepemahaman saya, kereta yang menghubungkan Yogyakarta dan Malang adalah Gajayana yang bertipe eksekutif. Karena itu kereta tersebut tidak berhenti di Lempuyangan melainkan Stasiun Tugu. Ingat, Stasiun Lempuyangan diperuntukkan bagi kereta kelas ekonomi.

Atau cerita Jenna dan Rigel yang berkeliling Malioboro untuk mencari suvenir pernikahan. Mengapa tidak ke Kasongan di Bantul saja? Semua orang juga tahu pernak-pernik yang dijual di Malioboro merupakan suvenir untuk pelancong. It’s common sense.

Hal kecil lainnya seperti kurangnya penggunaan kata ganti orang ketiga juga sangat mengganggu dan miskin variasi. Dalam satu paragraf, ada banyak kata Jenna, Jenna, Jenna atau Satura, Satura, dan Satura, atau Rigel, Rigel dan Rigel. Saya sebagai pembaca merasa lelah saat melihat kata yang sama dalam jarak yang berdekatan.

Belum lagi adegan chat melalui ponsel yang menurut saya begitu menjemukan. Mengapa harus menggunakan model penulisan seperti Jenna:……SAtura:…..Rigel:….. ? Menurut saya, tidak perlu menempatkan nama mereka setiap saat. Cukup dialognya saja sehingga pembaca bisa diajak untuk berfantasi dan memastikan ini perkataan dari Jenna, ini Satura dan ini Rigel.

Tidak lupa, hal kecil lain yang menurut saya perlu dikoreksi adalah penentuan tanggal 5 Oktober 2014. mengapa tahun harus disertakan? Menurut saya, lebih cantik jika tahun tidak disertakan sehingga buku ini selalu up to date dibaca oleh siapapun bertahun-tahun kemudian. Melihat tahun yang telah berlalu melahirkan kesan basi bukan?.

Ya, mungkin saja berbagai hal yang saya kritisi di atas sudah diketahui sang penulis saat mengerjakan proses kreatif tapi kemudian terpasung proses redaksional penerbit. Who knows.

Walau banyak hal yang terkoreksi dalam novel tersebut, saya mengacungkan empat jempol buat Annisa Andrie yang memiliki banyak amunisi keberanian sehingga mampu melahirkan karya ini. Tidak banyak orang yang bisa melahirkan karya secemerlang ini.

Jujur saja, novel ini benar-benar mengena bagi saya secara pribadi. Pasalnya, saya juga mulai dipusingkan dengan segala proses persiapan pernikahan yang bisa saja melahirkan kegalauan. Rasanya begitu menohok.

Selain itu, kisah tentang Ikhsan dan Ningsih, sahabat masa kecil Jenna, begitu menggungah. Cinta mereka sederhana, tapi mampu merekatkan hati mereka satu sama lain, walau hidup dalam kondisi keterbatasan.

Baiklah, akhir kata, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapapun, yang mungkin sedang kasmaran dan hendak mengkahiri dengan sebuah pernikahan, atau siapa saja yang penasaran melihat cover novel ini. Terima kasih.

Judul: Menikahlah Denganku

Penulis: Annisa Andrie

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah halaman: 252

ISBN; 978-602-291-073-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s