Begini Cara Terpidana Mati Dieksekusi

Hari-hari ini kita tengah dihebohkan dengan pemberitaan mengenai eksekusi hukuman mati 6 terpidana kasus narkoba. Sebagian besar di antaranya merupakan warga negara asing mulai dari Malawi dan Nigeria di Afrika, Belanda, hingga Brasil.

Eksekusi tersebut, memanaskan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Brasil serta Indonesia dan Belanda. Hal itu dibuktikan dengan dipanggilnya duta besar kedua negara tersebut, kembali ke negara mereka untuk melakukan konsultasi terkait masa depan hubungan bilateral dengan Indonesia.

Setahu saya, dalam dunia diplomatik, pemanggilan duta besar merupakan salah satu fase serius dan bisa saja mengakhiri hubungan diplomatik kedua negara. Tahapan paling serius, tentu saja pengusiran duta besar negara tertentu.

Saya tidak ingin mengomentari soal boleh tidaknya vonis hukuman mati, beserta grasi yang diberikan oleh presiden sesuai amanah undang-undang. Yang ingin saya bahas adalah proses eksekusi hukuman mati tersebut yang belum banyak diulas oleh publik.

Di Indonesia, eksekusi hukuman mati dilakukan dengan cara sang terpidana ditembak di hadapan regu tembak yang berasal dari Kesatuan Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia. Di negara lain, eksekusi hukuman mati memiliki banyak teknik mulai dari duduk di kursi listrik, digantung, dipenggal, hingga diberi suntikan beracun.

Sebelum dieksekusi, biasanya sang terpidana dikurung di sel isolasi. Di sana, mereka diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhir, meninggalkan wasiat kepada sanak keluarga, serta mendapat pendampingan rohani.

Beberapa jam sebelum dieksekusi, mereka diberi pakaian berwarna putih, dengan tujuan agar mudah dikenali oleh para regu tembak. Setelah itu mereka dibawa ke tempat eksekusi.

Sesampai di sana, sang terpidana diikat pada sebuah pancang, matanya ditutup, kemudian pada dada sebelah kiri ditempelkan sebuah tanda, biasanya berupa lem isolasi berwarna terang sebagai target sasaran para juru tembak.

Sejurus kemudian, kembali sang terpidana mendapatkan bimbingan rohani singkat menjelang kematiannya. Jaksa selaku eksekutor kemudian membacakan vonis pengadilan, dan eksekusi pun dilakukan.

Doooor….dari jarak sekitar 10 meter, peluru dilepaskan oleh regu tembak tepat mengenai dada kiri (jantung) sang terpidana. Setelah beberapa saat, seorang tenaga medis diberi kesempatan untuk mengencek kondisi terpidana. Biasanya tidak sampai 5 menit seusai tembakan, nyawanya pun melayang.

Ada cerita menarik perihal regu tembak. Biasanya, dua pekan sebelum eksekusi, para anggota Brimob telah dilatih secara khusus. Satu regu, jumlahnya sekitar tujuh hingga 10 orang.

Menurut cerita yang pernah saya dengar misalkan dari 7 senjata yang biasanya digunakan oleh para anggota regu, hanya 1 senjata yang berisi peluru tajam. Selebihnya merupakan peluru hampa yang sama-sama mengeluarkan bunyi menggelegar setelah pelatuknya ditarik.

Para anggota regu tersebut tidak mengetahui siapa yang memegang peluru tajam. Hal ini dimaksudkan agar para anggota regu tidak mengalami gangguan psikologis jika mengetahui kalau nyawa sang terpidana tewas di tangan salah satu anggota yang memegang senapan berisi peluru tajam tersebut.

Itulah sekelumit cerita yang pernah saya dengar. Akhir kata, semoga para terpidana yang disekusi tenang di alam sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s