Remi dan Pendidikan

Terkadang, kita sebagai manusia tidak pernah bersyukur karena memiliki sedikit keberuntungan dalam beberapa hal, termasuk beruntung bisa mengenyam pendidikan formal. Sebagian dari kita, cenderung menganggap remeh pendidikan yang dilakoni, meski secara ekonomi cukup mapan.

Ada cerita, salah seorang tetangga saya, seorang cewek, yang dikuliahkan oleh keluarganya hingga ke jenjan sarjana muda alias diploma 3. akan tetapi, di tengah perjalanan, dia memutuskan untuk berhenti kuliah dengan alasan otaknya sudah tidak mampu untuk belajar. Alhasil, terbuang percuma segala jerih payah keluarganya yang mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk membayar uang kuliah.

Saya kemudian terkenang akan seorang rekan di masa lampau. Remi namanya. Kami bersua saat saya mengenyam pendidikan SMA yang di Atambua, daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Perawakannya tinggi besar. Wajahnya lumayan boros untuk ukuran anak kelas 1 SMA. Dia berasal dari pinggiran Kota Atambua dan mengenyam pendidikan di salah satu SMA swasta di kota itu, dengan biaya pendidikan yang tergolong tinggi untuk ukuran warga sana.

Walau tidak terlalu cemerlang, semangat Remi cukup tinggi. Akan tetapi, semua mimpi dan semangat itu sekejap punah. Apa pasalnya? Tidak lain dan tidak bukan lantaran orangtuanya tidak mampu lagi untuk membiayai sekolahnya.

Tanda-tanda tersebut sudah terlihat sejak awal tahun pelajaran. Remi kerap telat membayar uang SPP. Sayang seribu sayang, bangku SMA hanya dikenyam olehnya selama 6 bulan.

Sebelum kembali ke desanya, kami bersalaman. Dengan wajah sedih, dia mengucapkan salam perpisahan, kemudian sedikit menasehati saya agar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dan bersekolah.

Selama 14 tahun kenangan ini saya simpan. Bagaimana kabarnya sekarang, saya pun tidak tahu. Yang saya sadari adalah terkadang dunia ini memang sangat tidak adil. Ada orang yang secara finansial hidupnya berkecukupan, tapi menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebaliknya, ada orang yang sangat ingin bersekolah, tapi apalah daya, situasi ekonomi yang tidak berkecukupan, lantaran orangtuanya merupakan seorang petani kecil, sehingga dengan berat hati, harus menanggalkan seragam sekolahnya.

Pertanyaan berikutnya adalah, jika tidak bisa memberikan akses yang sama untuk mengenyam pendidikan, untuk apa negara ini dilahirkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s