Pemimpin

Sebenarnya saya tidak mahir berbicara tentang persoalan manajemen seperti Prof. Renhald Kasali yang kerap menghiasai layar kaca dengan berbagai argumen dan penjelasan mengenai keterampilan ilmu manajemen,, termasuk manajemen kepemimpinan.

Akan tetapi, tidak ada salahnya jika saya lancang berbicara tentang manajemen kepemimpinan, bukan berdasarkan literatur tertentu tapi berdasarkan pengalaman pribadi dan juga dari pengalaman sahabat lainnya selama ini.

Ceritanya, akhir-akhir ini saya selalu menjadi tempat curahan hati alias curhat dari sahabat lama yang mengeluhkan prilaku atasannya. Menurutnya, dalam menjalankan tujuan organisasi sesuai peran masing-masing, terkadang dia selaku bawahan melakukan kesalahan.

Akan tetapi, saat kesalahan itu ditemukan oleh sang pimpinan, bukannya mengajak dialog dan menyisipkan nasehat dengan penuh aura kebapakan, sang pimpinan justru melaporkan teman saya tersebut kepada atasan yang kedudukannya lebih tinggi.

“Kalau begitu saya berkesimpulan manajemen kepemimpinannya payah. Dia tidak bisa menyelesaikan sendiri suatu persoalan yang sebenarnya bisa dia lakukan tapi membutuhkan pimpinan yang lebih tinggi untuk mengatasinya,” kata teman saya tersebut.

Saya pikir, ada benarnya juga. Berdasarkan pengalaman saya dalam berorganisasi semasa di bangku sekolah dan kuliah, sebenarnya suatu kesalahan bisa diselesaikan tanpa harus melibatkan hirarki yang lebih tinggi, sepanjang kesalahan tersebut bisa diperbaiki dengan terlebih dahulu mendengarkan keterangan objektif dari berbagai pihak.

Dengan melapor langusng kepada atasan tanpa terlebih dahulu diselesaikan di tingkat bawah, muncul kesan yang kuat bahwa atasan tersebut, selain tidak memiliki kemampuan menghadapi masalah, juga bisa menjurus otoriter. Bahkan bisa jadi muncul pula kesan bahwa atasan tersebut melakukan aksi cari muka dengan pimpinan yang lebih tinggi.

Hal-hal seperti itu saya beberkan kepada teman saya tersebut dan dia mengamini. Pasalnya, aksi cari muka tersebut, menurut analisis teman saya, bisa saja dilakukan oleh atasannya lantaran sebelumnya, sang atasan tersebut pernah melakukan kesalahan fatal.

“Mungkin dia mau menunjukkan bahwa dia bertindak disiplin dengan langsung melaporkan saya kepada atasan yang lebih tinggi. Padahal menurut tanpa melibatkan pimpinan yang lebih tinggi, kami bisa menyelesaikannya,” tambah teman saya.

Teman saya yang lain juga pernah mencurahkan keluh kesahnya. Atasan langsungnya, tergolong tipe gemar cari muka dengan atasan yang lebih tinggi, tapi tidak memiliki kemampuan manajemen kepempimpinan yang mumpuni.

“Selain gemarcari muka dengan bersikap manis di hadapan atasan yang lebih tinggi, dia juga kerap melemparkan kesalahannya kepada anak buah. Padahal anak buah bertindak atas arahannya,” kata teman saya yang lain tersebut.

Menjadi pempimpin sejatinya merupakan seorang seniman. Dia setidaknya harus pandai meramu berbagai karakter bawahan demi mencapai hasil yang telah digariskan oleh organisasi. Pemimpin, menurut hemar saya harus bertindak seperti beringin, menaungi bawahan dengan sikap kebapakan, serta berani mengambil risiko dan tanggung jawab jika memang hal tersebut perlu diambil untuk menyelamatkan organisasi. Selain itu, pemimpin yang baik, kiranya bisa mengajak bawahannya untuk berbincang dari hati ke hati.

“Betul dengan begitu kami merasa dimanusiakan,” seloroh salah seorang teman saya memotong wejangan saya tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s