Ade Na, Sebuah Nama

Mereka yang telah pergi untuk selamanya, meninggalkan nama yang dikenang sebagai bagian dari sejarah kehidupan kita yang saling bersinggungan di suatu kesempatan. Kali ini saya mengenang sebuah nama, yang begitu dekat, bahkan hampir sepanjang usia ini.

 

Ana Sinagula, nama itu. Saudari sepupu yang kerap kami sapa dengan sebutan Ade Na itu baru saja berpulang, 1 September 2014 lalu dan dimakamkan di kampung halaman kami, Larantuka, Flores Timur, NTT, siang tadi. Usianya baru 27 tahun, 6 bulan lewat 6 hari.

 

Enam tahun silam, ketika ibu saya meninggal dunia, kami, saya dan kakak laki-laki, bergegas pulang. Dari Yogyakarta, kami terbang ke Denpasar, kemudian melanjutkan perjalanan ke Maumere, Flores. Dari kota tetangga itu, setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, kami pun tiba di kampung halaman.

 

Saya ingat betul, sore itu, ketika mobil carteran yang mengantar kami tiba di tepi jalan, di seberang rumah. Banyak orang berkerumun di seberang jalan dengan wajah sendu. Satu wajah yang saya kenal baik adalah wajah Ade Na. Kami saling bertatapan, tanpa bicara. Raut kesedihan yang terukir di wajah seakan menjadi media komunikasi kami.

 

Di dalam rumah, jenazah ibuku sudah terbujur kaku. Hanya tangis yang membahana ketika itu. Tangis kami, keluarga yang berduka, maupun tangis para pelayat yang turut hadir kala itu.

 

Saya tidak memperhatikan di mana Ade Na ketika itu. Tapi beberapa jam kemudian, ketika tengah menjemur pakaian milik almarhumah ibu, adik perempuan saya mengabarkan bahwa Ade Na baru saja masuk ke kamar mandi.

 

Lokasi penjemuran pakaian itu terletak persis di belakang kami mandi. Ada sebuah jendela kecil yang lebih berfungsi sebagai ventilasi terletak di pucuk dinding kamar mandi. Dengna usil, meski masih dalam suasana duka, saya dan adik kemudian melemparkan kerikil-kerikil berukuran kecil ke jendela kamar mandi tersebut.

 

Tidak hanya itu, kami, yang tahu persis Ade Na yang kerap takut dengan aneka cerita tentang arwah, semakin usil dengan mengeluarkan suara horor..”Nona Na…..Nona Na,
begitu lolong suara kami.

 

Suara lolongan yang lirih itu sepertinya mengerdilkan keberanian Ade Na untuk berlama-lama di kamar mandi. Secepat kilat dia menyelesaikan urusan di ruangan kecil itu, dan mengadukan ke ibunya, yang adalah tante kami (kakak dari ibu saya).

 

Beruntung sensasi horor itu segera ketahuan setelah kakak laki-laki saya memergoki saya dan adik, tengah tertawa terpingkal-pingkal di balik tembok kamar mandi. Alhasil, ketakutan Ade Na segera luluh.

 

Kami dan Ade Na begitu dekat sejak masih kanak-kanak. Pasalnya, kami sama-sama besar di Kota Kupang. Karena merupakan keluarga dekat, kami sering saling kunjung-mengunjungi. Terkadang Ade Na dan saudara-saudarinya menginap di rumah kami, dan sebaliknya.

 

Mungkin karena suhu udara Kupang yang menyengat, ketika kecil, Ade Na gemar tidur hanya dengan mengenakan celana pendek semata, tanpa baju. Meski begitu, Ade Na yang lahir di Ende, Flores, gemar makan apa saja tanpa dipilih-pilih. Hal itu kontras dengan saya yang sulit makan sehingga seringkali harus dipaksa oleh ibu.

 

Suatu ketika, saya ingat betul, mungkin usia Ade Na saat itu baru 4 tau 5 tahun. Dia menginap di rumah kami dan suatu ketika sedang kurang sehat. Suhu tubuhnya meningkat.

 

Dia terus saja menangis dan enggan menelan obat Bodrex rasa jeruk yang mujarab untuk menurunkan suhu tubuh. Mau tidak mau, dengan sedikit memaksa, ibu saya kemudian mencekoki obat tersebut ke dalam mulutnya.

 

Cerita lainnya, ketika kami sudah memasuki Sekolah Dasar, Ade Na yang ceria terkadang usil menggodai saudara-saudari sepupu. Suatu ketika, salah seorang adik ibu beserta keluarganya berlibur ke Kupang.

 

Putri sulung dari adik ibu tersebut memiliki fisik yang bongsor dan jauh lebih tinggi dari kami anak-anak sebaya. Karena kondisi fisik demikian, sepupu kami itu terlihat lebih cepat dewasa, terlihat dari perubahan bentuk tubuh.

 

Maksud Ade Na ingin bercanda, dengan menyebut sebuah frasa dalam dialek Larantuka sehubungan dengan perubahan kondisi fisik sepupu kami itu. Tapi justru frasa itu menyebabkan sepupu kami murka dan mengadukan hal itu ke ibunya.

 

Ketika mendengar informasi Ade Na datang ke Jakarta untuk menjalani pengobatan, saya sempat mengunjunginya medio akhir Juli 2014. satu kilogram anggur yang saya dan pacar bawa sebagai buah tangan, segera dilahapnya.

 

Saya paham betul, Ade Na gemar makan, khususnya buah-buahan. Karena itu, anggur serta jeruk sengaja kami bawa sebagai buah tangan.

 

Kala itu, dari Siang hingga Sore hari, kami asyik berbincang tentang apa saja. Tentang anaknya Tika yang bagai pinang dibelah dua, tentang kabar para sanak keluarga, bahkan dia mengutarakan keinginan untuk hadir ke pernikahan kami, yang akan kami selenggarakan tahun depan di Klaten.

 

Selepas itu, saya tidak berkesempatan mampir untuk mengunjunginya lantaran terpasung kesibukan pekerjaan dan perjalanan dinas keluar kota. Hingga akhirnya, pada Senin, 1 September sore, telpon dari ibunya yang mengabarkan kondisi terakhir Ade Na.

 

Butuh 1,5 jam untuk mencapai tempat di mana Ade Na dirawat lantaran kemacetan Jakarta yang semakin menjadi-jadi. Begitu sampai, dia sudah terbaring dengan alat bantu pernafasan terpasang di mulutnya. Belum ada saudara-saudari kenalan lain yang tiba kala itu.

 

Nafasnya tersengal-sengal. Matanya setengah tertutup, tapi sudah tidak bercahaya. Saya kemudian mengambil peran memencet bola karet yang terhubung dengan selang pernafasan, untuk membantu proses respiratori tersebut.

 

Di sebelah, pacar saya terus mendesis. Dia sedang berdoa seraya mencengkram pundak saya, memberi dukungan kepada saya, terlebih memberi dukungan kepada Ade Na.

 

Satu…dua…tiga….pada hitungan keempat bola itu saya pencet. Hitungan itu terus saya dengungkan di dalam hati. Bahkan, saya enggan larut dalam ibadat minyak suci yang diberikan seorang pastor, karena tidak ingin kehilangan konsentrasi menghitung.

 

Hingga akhirnya, beberapa menit seusai upacara minyak suci tersebut, rahang Ade Na mengatup kuat, mengigit selang pernafasan tersebut. Nafasnya pun berhenti. Setengah tidak percaya, saya terus saja menghitung dan memencet bola karet tersebut meski tangis sudah membahana dari sanak-keluarga yang hadir dalam ruangan itu.

 

Beberapa jam kemudian, setelah jenazahnya dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti, saya turut mengantarkan ke bandara untuk selanjutnya diterbangkan ke Flores.

 

Sepanjang perjalalan, Selasa 2 September 2014, fragmen demi fragmen cerita tentang Ade Na, sejak kami masih kanak-kanak, hingga dewasa, silih berganti melintas dalam benak.

 

Di Terminal Kargo Bandara Soekanro-Hatta, dini hari itu, peti jenazahnya dimasukkan ke box ground handling kemudian ditransfer ke lambung pesawat. “Ah. Inikah perjumpaan terakhir kita Ade Na,” bathinku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s