Kemunduran Jurnalisme Indonesia

Kembali lagi, sejarah selalu bergulir dan suatu ketika akan berulang dalam kemasan yang berbeda. Pada dekade 1950-an kita disajikan pertempuran politik antarpartai politik di masa demokrasi liberal berbasis pemerintahan parlementer.

Bayangkan, tidak ada kabinet yang berumur panjang. Paling lama mungkin sekitar 2 tahun. Selebihnya, kabinet demi kabinet yang digalang koalisi partai politik silih berganti naik ke panggung kekuasaan.

Pertarungan media tersebut tak ayal lagi menyeret dunia jurnalisme negeri ini ke dalam pusaran politik. Tiap media memiliki afiliasi politik dengan parpol tertentu sehingga media tersebut selalu menjadi corong politik.

Selain menyebarluaskan pandangan-pandangan partai, media partisan itu seringkali digunakan juga untuk menyerang lawan politik dari partai tersebut. Saat itu dunia jurnalisme Indonesia belum mengenal pemberitaan cover both side sehingga berita-berita yang ditampilkan sering hanya berupa komentar sepihak.

Pada masa itu, karikatur juga sering dijadikan senjata untuk menyerang lawan politik. Di masa itu, lawan politik benar-benar ditelanjangi dengan bahasa dan gambar yang tendensius.

Ini terlihat dari gambaran kuantitatif pasar suratkabar pada 1950-an: 22,22 persen dikuasai suratkabar independen, sisanya dibagi suratkabar partai yang berkecenderungan komunis (28,57 persen), sosialis (18,14 persen), Islam (11,56 persen), dan nasionalis (19,5 persen).

Sejarah semacam itu kembali terjadi saat ini, ketika kita akan memilih satu dari dua kontestan yang akan menjadi presiden pilihan rakyat. Hampir semua media massa terpolarisasi pada dua kubu di mana pemberitaannya sangat tendensius, bahkan menyebarkan berita bohong seperti TV One. Saya tidak ingin menyebut nama Obor Rakyat karena menurut Dewan Pers, bukan produk jurnalistik.

Sebagai konsumen berita, secara pribadi saya mengatakan bahwa polarisasi media saat ini merupakan petaka karena independensi media telah dikangkangi oleh kepentingan politik yang sifatnya temporal. Saya merasa dirugikan karena sebagai pembaca, seringkali saya tidak disajikan berita-berita yang objektif dan bebas dari bias karena media tersebut berafiliasi dengan salah satu kubu.

Semoga pascapilpres nanti, para insan media bisa mengevaluasi diri sehingga di masa mendatang, situasi seperti ini tidak terjadi lagi. Jadilah media yang cerdas dalam mendidik massa menjadi lebih cerdas lagi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s