Mental Babu

Mental babu. Itulah kata-kata yang meluncur dari bibir teman saya, Leila, siang tadi. Diksi alias pilihan kata darinya terkadang cukup mengagetkan tapi bisa menjadi pemciu permenungan kita, sebagai bangsa Indonesia.

Ceritanya, Laila dan saya, bersama rekan kerja lainnya memutuskan untuk santap siang bersama di sebuah restoran siap saji yang terkenal dengan root beer-nya. Setelah memesan, dan mulai menyantap hidangan ayam goreng berbalut tepung, nasi, burger serta kentang goreng, sekonyong-konyong masuk 3 remaja bule.

Leila terus memperhatikan deretan antrean tersebut. Saat 3 bula itu melakukan pemesanan, dia melihat sang pramusaji, seorang wanita berdandan menor nampak ramah bukan main. Leila sontak muak bukan kepalang menyaksikan kermahan palsu ala si pramusaji.

Dia pantas kesal karena tadi, saat memesan makanan, pramusaji yang sama nampak acuh tak acuh. Kontras sekali dengan pelayanannya kepada para bule remaja itu.

“Dasar mental babu!,” katanya.

Melihat kekesalan Leila, saya hanya bisa tersenyum. Tapi sejatinya saya menyetujui ungkapan itu karena kenyataannya memang demikian. Orang Indonesia kerap memposisikan diri super ramah jika yang tengah dia hadapi adalah bule.

Saya jadi teringat perangai seorang karyawati Maskapai Emirates yang tidak ramah kepada Duta Besar Indonesia untuk Lebanon (jika saya tidak salah) di Bandara Soekarno-Hatta. Sejurus kemudian sikap acuh tersebut berbalik 180 derajad ketika ada seorang bule yang melakukan boarding.

Sadar atau tidak sadar, kita, Orang Indonesia kerap mengaggung-agungkan bule dan berbagai atribut yang menyertainya. Lihat saja, banyak kaum hawa, dari zaman kolonial hingga hampir 70 tahun merdeka, yang berhasrat ingin memiliki pasangan dari luar negeri.

Motivasinya bermacam-macam. Tapi mayoritas merasa dengan menikahi bule, kehidupan mereka akan bergelimang kemewahan. Saya jadi teringat cerita dari binibule.com yang pernah saya baca. Dalam situs itu, sang bini bule menceritakan beratnya kehidupan di luar negeri lantaran harus mengikuti sang suami kembali ke negara asalnya.

“Memangnya bule itu Perum Peruri [Perusahaan Uang Republik Indonesia]?,” ungkapnya.

Mental babu lainnya bisa dilihat dari pilihan berkebudayaan kita. Kesenian Korea populer, Mandarin populer serta budaya pop lainnya, termasuk budaya Arab makin merajalela dengan dukungan media yang mengedepankan laba semata.

Tidak heran, Bung Karno memasukkan poin berkepribadian dalam berbudaya sebagai salah satu pilar Trisakti karena beliau ingin kita tumbuh menjadi bangsa yang bangga akan akar budaya sendiri, percaya diri saat berhadapan dengan bangsa asing, serta tidak menghambakan diri kepada pihak asing.

Sayang, cita-citanya, masih menjadi cita-cita semata. Kita tetap bermental babu. Selalu melihat bule sebagai sesuatu yang luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s