Mengenang Ibunya Fenty

Dunia memang tak selebar daun kelor. Tapi dalam beberapa kasus, sering dunia ini jauh lebih sempit dari daun yang sering dijadikan sayuran di beberapa wilayah di negeri ini. Belum lama ini saya mengalaminya.

Ceritanya saya bersua kembali dengan Fenty, seorang teman lama, teman SD di ibukota negara ini. Ternyata tempat tinggal kami tidak jauh. Karena itulah saya mengatakan terkadang dunia menjadi begitu sempit seperti daun kelor.

Terhitung sudah 17 tahun kami tidak pernah bertemu. Rentang waktu yang begitu panjang memberikan perubahan yang berarti mulai dari fisik, pemikiran, hingga ke cerita. Bersua dengannya, saya pun dipaksa mengenang masa-masa ketika kami masih duduk di bangku sekolah di Kupang, Nusa Tenggara Timur sana.

Saat itu kami masih merupakan bocah-bocah kurus, agak dekil karena sering bermain di lapangan depan sekolah yang luas, serta ingusan dalam arti yang sebenarnya. Tapi lihatlah sekarang, Fenty sudah berubah menjadi wanita kelas menengah khas ibukota yang modis, punya wawasan luas, karier yang bagus, serta matang dari segi pemikiran.

Kami banyak bercerita tentang kehidupan yang dijalani selepas SD. Mulai dari SMP, SMA, Kuliah, hingga bekerja. Cerita demi cerita mengalir dengan sendirinya hingga pada suatu ketika kami bercerita tentang keluarga kami masing-masing.

Ternyata dari obrolan itu baru saya ketahui bahwa ibunya sudah berpulang, hampir 8 tahun silam. Saya tak sempat, dan juga tidak ingin bertanya lebih lanjut perihal alasan kepergian sang ibunda, tapi dipastikan karena gangguan kesehatan.

Seingat saya, sang ibu, wanita berkulit cerah itu, kerap mengantar dan menjemput Fenty di sekolah. Pernah suatu ketika, mungkin saat kami masih duduk di kelas III (atau mungkin kelas V), saya pernah berkonflik dan bertindak agak kasar terhadap Fenty dengan mendorong tubuhnya hingga terbentur papan tulis sehingga dia langsung menangis.

Rupanya Fenty melaporkan kejadian itu ke ibunya. Keesokan harinya, sang ibu datang ke sekolah dan bertemu dengan saya. Terbayang sudah dalam benak saya pasti akan dimarahi habis-habisan. Tapi rupanya tidak demikian.

Ibunya Fenty hanya menasehati, dengan intonasi yang penuh kelemahlembutan agar saya tidak boleh mengulangi perbuatan itu, bukan saja kepada Fenty, tapi kepada teman lainnya. Suatu nasehat yang melegakan dan masih saya ingat hingga belasan tahun kemudian.

Rest in peace tante, bersama mama saya di surga sana. Berkatilah kami anak-anak kalian yang tengah mengarungi pahit, dan onak dunia ini.

One thought on “Mengenang Ibunya Fenty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s