Sopir dan Kesehariannya

Ada sejuta profesi pekerjaan yang ditekuni para penduduk Jakarta dan sekitarnya. Mulai yang konon, terlihat elegan seperti manajer atawa direktur perusahaan ini dan itu hingga profesi yang menurut orang kebanyakan tidak memiliki pamor yang berarti.

Salah satu pekerjaan yang sering dianggap sebelah mata adalah menjadi pengemudi alias sopir. Saya belum melakukan riset lebih jauh tapi kemungkinan kata sopir merupakan serapan dari Bahasa Belanda. Entahlah pembaca.

Berbicara tentang sopir, saya jadi teringat tentang sebuah buku berjudul Jakarta-Jakarta yang dikarang oleh Seno Gumira Adjidarma. Dalam salah satu bab di buku itu, dia mempertanyakan tentang arti kata sukses.

Kebanyakan orang menganggap kesuksesan berarti memiliki pekerjaan mentereng dan bergelimang materi yang lebih dari cukup. Lanjutnya, padahal seorang sopir yang misalkan selama 20 tidak pernah mengalami kecelakaan, tentu disebut sukses pula.

Kembali ke soal sopir, di Jakarta ini, banyak sekali jenis kendaraan yang dikemudikan oleh si sopir. Ada sopir truk tronton, ada sopir taksi, ada sopir kendaraan pribadi, sopir metromini, kopaja serta mikrolet.

Dari semua jenis sopir itu, saya paling mengagumi sopir mikrolet. Kenapa bisa begitu? Lihat saja, ukuran mikrolet yang tidak besar seperti tronton atau metromini dan kopaja. Otomatis ukuran bodi mobil yang kecil terlihat tidak searogan jenis angkutan umum lainnya yang kerap menebar klakson sepanjang perjalanan jika ada kendaraan yang menghalangi jalan.

Bahkan sering saya amati, mikrolet justru menjadi korban klakson dari berbagai kendaraan lain. Tapi saya akui pula tidak sedikit sopir mikrolet yang serampangan berhenti untuk menaikkan serta menurunkan penumpang.

Masih seputar sopir, saya rasa manusia paling sabar di seantero Jakarta ini adalah para sopir. Apa pasalnya? Mereka dengan tekun dan lagi-lagi sabar mengarungi lautan kemacetan yang terjadi di seluruh wilayah Jakarta. Bukankah demikian pembaca?

Kembali ke persoalan sopir mikrolet, saat menumpang angkutan jenis ini dan duduk di bagian depan, tepatnya di samping sopir, saya selalu menikmati para sopir yang memisahkan uang berdasarkan satuan nilai. Uang kertas jenis Rp2000 dipisahkan dari jenis Rp1000, dilipat kemudian dimasukkan ke dashboard mobil. Begitu pula uang koin recehan yang Rp1000 dipisahkan dari Rp500 kemuian disimpan juga dilaci dashboard.

Sementara uang jenis Rp5000 ke atas disimpan di kantong celana atau kemeja biru yang kerap mereka kenakan. Menurut saya hal itu bercita rasa seni. Seni memilah dan menyimpang duit.

Kegiatan lain yang identtik dengan keseharian para sopir angkutan umum di Jakarta adalah minuman keras. Sering saya lihat para sopir menenggak miras oplosan saat tengah mangkal. Ya dengan pendapatan yang lumayan besar, untuk ukuran mikrolet, perhari bisa sekitar Rp200.000, membeli miras oplosan secara patungan tentu bukan merupakan suatu hal yang sulit dilakukan.

Itulah sekelumit kisah tentang sopir. Suatu profesi mulia yang turut berjasa mendorong arus distribusi barang, dan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s