Merindukan Kulon Progo

Saat hari telah sunyi seperti ini, kadang, pikiran saya melayang jauh kembali ribuan jam sebelumnya, saat masih tinggal di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat di mana saya menghabiskan 1,5 tahun lamanya untuk mencari nafkah.

Kebetulan, saya tinggal di sebuah dusun di Desa Bumirejo, Kecamatan Galur, tempat di mana sawah masih membentang luas dan semerbak batang padi begitu mempesona siapa saja yang melintas. Saat malam tiba, udara sejuk yang mampir lewat ventilasi udara beradu syahdu dengan suara kodok yang makin riuh saat musim hujan tiba.

Di seberang tempat tinggal saya, berdiri sebuah bangunan masjid bernama An-Nur yang berarti cahaya. Dilihat dari namanya, siapapun pasti mafhum, masjid tersebut memiliki umat yang berbasis pada organisasi Muhammadiyah.

Meski bukan penganut ajaran Islam, ada hal yang saya rindukan dari masjid itu. Setiap pagi, sebelum subuh, kathib masjid, seorang pensiunan guru yang tinggi di sebelah utara kediaman saya, selalu melafalkan ayat-ayat Al-Quran. Seumur-umur hidup di Jawa, baru kali ini saya dengar suara semerdu itu saat orang mengaji.

Kathib tersebut berperawakan kecil dan berkulit terang. Orangnya ramah dan santun. Entah kapan lagi saya bisa menikmati suara merdunya di pagi buta, saat mata masih terasa berat dan butuh beberapa jam lagi untuk melek.

Masih soal masjid dan Kulon Progo. Lokasi ini, sama seperti Jakarta, tempat saya berdomisili saat ini, di mana mayoritas penduduknya beriman Islam. Sama seperti Jakarta, warga Kulon Progo kerap menggelar pengajian akbar dengan mendatangkan penceramah yakni tokoh agama tersohor untuk memberikan wejangan kepada warga.

Selama 1,5 tahun tinggal di sana, saya kerap mendengar berbagai ceramah dari pemuka agama tersebut, karena memang lokasi tempat tinggal saya letaknya tidak jauh dari beberapa masjid yang kerap menggelar pengajian akbar tersebut.

Satu hal yang bisa saya simpulkan, rerata, para penceramah memberikan wejangan yang sederhana, seringkali menggunakan Bahasa Jawa, yang isinya sangat menentramkan. Ada yang mengajarkan tentang perlunya memberikan zakat, hilangkan dengki dan iri hati, serta berbuat baik terhadap sesama, siapapun itu.

Hebatnya lagi, meski tengah menggelar pengajian akbar, jalan umum di depan masjid, sesempit apapun itu jalannya, tidak pernah dibarikade alias ditutup. Tentu saja warga yang hendak bepergian dan melintas di depan masjid, tetap diperbolehkan, sepanjang bisa menjaga tata krama.

Ya, itulah Kulon Progo. Saya merindukan suasana religius yang menentramkan khas daerah tersebut, yang jarang saya temukan di Jakarta, sejauh ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s