Suatu Ketika di Pemilu 2009

Pemilu Legislatif tahun ini tinggal dalam hitungan hari. Tanggal 9 April menjadi penentuan siapa yang berhak melangkah ke gedung dewan dari kabupaten hingga pusat.

Pada 2009 silam, Pemilu Legislatif juga dilaksanakan pada 9 April. Tanggal ini agak spesial bagi keluarga kami, karena adik bungsu saya lahir pada tanggal tersebut.

Lima tahun silam, sore sebelum tanggal tersebut, saya berdesak-desakan dengan para penumpang lain di Kereta Api Ekonomi Progo menuju Jakarta. Saat itu, saya terpaksa membayar tiket lebih mahal, sekitar Rp45.000 dari harga aslinya Rp35.000 demi mendapatkan tiket. Para calo memang lihai memanfaatkan situasi libur semacam itu.

Saya terpaksa harus menempuh perjalanan itu demi mendapatkan sebuah pekerjaan, sebagai pelobi demi mendapatkan lahan untuk ditanami kelapa sawit. Caranya, ya melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah setempat.

Rencananya saya akan diinterview secara langsung oleh sang bos di salah satu tempat di daerah Pluit. Oleh karena itu, saya berencana untuk turun di Stasiun Senen karena menurut perhitungan, jaraknya lebih dekat dibandingkan saya turun di Stasiun Bekasi, mampir di tempat kakak saya. Saya berencana mandi di Senen, kemudian mencari cara untuk sampai ke Pluit.

Sialnya, setelah tiba di Senen pada 9 April 2009, dini hari, sekitar pukul 3.30 WIB, saya mendapatkan informasi si bos besar itu memiliki agenda kegiatan lain sehingga interviewnya batal. Sontak saya langsung kebingungan. Apa yang harus saya lakukan?

Beruntung ada informasi dari salah seorang pedagang bahwa ada kereta jarak pendek dari Senen menuju Karawang dan menyingahi Bekasi. Cukup membayar Rp5000. Sekitar 30 menit kemudian kereta tersebut bertolak dan sampai ke Bekasi sekitar 20 menit kemudian.

Begitu tiba di tempat kakak, saya segera beristirahat. Baru beberapa jam, saya kembali ditelpon dan mendapat kabar si bos besar mau interview saat itu juga sehingga saya harus segera ke Pluit. Sialan, saya benar-benar dikerjai oleh si bos besar itu.

Dari Bekasi saya langsung menumpang Kereta Rel Listrik (KRL) dengan tujuan Stasiun Kota. Sesampai di sana, saya melanjutkan perjalanan menumpang bajaj dengan membayar Rp10.000 untuk tiba di Mal Pluit. Sempat di tengah jalana bajaj tersebut mengalami kendala roda yang lepas bautnya. Benar-benar gila saat itu.

Saya diinstruksikan untuk menanti di sebuah kantor di belakang mal. Di sana, di pos satpam, saya harus menunggu sekitar 4 jam lamanya sebelum akhirnya si bos besar datang dan menyuruh saya masuk ke dalam mobil.

Di mobil dia mulai menginterview hingga akhirnya kami mampir di sebuah restoran Jepang. Dalam hati saya agak grogi karena memang tidak bisa menggunakan sumpit sehingga dengan jujur saya meminta sebuah garpu kepada pelayanan.

Saya hasil interview serta segala pengorbanan yang saya lakukan tidak membuahkan hasil. Si bos tidak mau memasukkan saya ke dalam timnya sehingga angan-angan untuk mendapatkan pekerjaan buyar seketika.

Tapi dalam hati saya bersyukur tidak bekerja di bidang itu. Bayangkan, saya harus melobi para pimpinan daerah agar bisa memberikan lahan untuk ditanami kelapa sawit. Otomatis, suka atau tidak suka, saya harus menyuap para abdi masyarakat tersebut. Bisa-bisa saya bakal diberangus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selain itu perkebunan kelapa sawit juga bakal merusak lingkungan karena hutan harus ditebas untuk ditanami sawit. Belum lagi jika di tengah perjalanan, ada tuntutan atau konflik dengan masyarakat setempat.

Kegagalan mendapatkan pekerjaan itu benar-benar saya syukuri, walau bayangan materi yang bakal didapatkan sangat menjanjikan. Ternyata memang bukan jalan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s