Pak RT, Bendera Parpol dan Massa Mengambang

Musim kampanye partai politik riuh rendah dan selalu bercorak sama seperti pada masa kampanye pemilu sebelumnya. Pengerahasan massa, hiburan musik dangdut, serta janji dan sindiran terhadap lawan politik masih dominan. Jarang kita temui kampanye terbuka yang memaparkan materi tentang program partai sehingga partai itu layak dipilih dalam pemilu kali ini.

Berbicara tentang kampanye dan partai politik, tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari atribut, khususnya bendera. Saya punya cerita, yang mudah-mudahan lucu, terkait bendera partai.

Ceritanya, di dekat tempat tinggal saya, di bilangan Karet Tengsin, ada salah seorang Ketua RT yang justru tinggal di atas lahan milik sebuah perusahaan pengembang milik salah seorang konglomerat Tanah Air. Rumah Pak RT, begitu ia biasa disapa, berdiri semi permanen dengan dinding terbuat dari triplek dan papan.

Kebetulan halaman rumah Pak RT tersebut cukup lapang. Salah seorang teman saya sering memarkir mobilnya di halaman tersebut dan ditagih uang parkir bulanan oleh Pak RT dengan alasan uang pengganti lampu penerang halaman tersebut.

“Ini mah kurang kalau cuma segini,” kata Pak RT saat teman saya memberikan uang Rp20.000 kepadanya. Padahal, mobil itu terparkir bukan di atas lahan miliknya.

Kembali ke persoalan Pak RT, bendera partai politik dan musim kampanye. Seperti biasa, di setiap musim kampanye, parpol gemar memasang atribut termasuk bendera di setiap lokasi publik, dengan harapan bisa menarik dukungan massa.

Kebetulan halaman rumah Pak RT yang jembar, dan sering dilalui orang, meski tidak banyak, juga terpasang bendera parpol, saat itu seingat saya bendera Gerindra, milik sang jenderal yang terkait erat dengan pelanggaran HAM di Tanah Air pada masa Orde Baru.

Dalam hati saya bergumam, sedikit memuji sang Pak RT. “Rupanya dia kader atau setidaknya simpatisan Gerindra. Saking cintanya kepada partai itu dia rela memasang bendera partai di halaman rumahnya”.

Eh, ternyata oh ternyata, saat malam hari, saya kembali melintas di lokasi tersebut, bendera Gerindra sudah bertransformasi menjadi bendera PPP. Itu lho partai berwarna dasar hijau yang makin hari makin kehilangan pendukungnya.

Selidik punya selidik, ternyata sang Pak RT mengganti bendera partai karena bayaran kader PPP demi supaya bendera partai itu terpasang di haklaman rumah Pak RT, jauh lebih besar dibandingkan bayaran kader Gerindra. Setiap pekan sang Pak RT dibayar sekitar Rp300.000. Lumayan bukan?.

Cerita ini menggambarkan wajah Indonesia sesungguhnya. Masyarakat menjadi pragmatis, melakukan sesuatu demi uang, termasuk dalam pilihan memasang atribut partai, bahkan sampai ke pemilihan. Siapa membayar dengan jumlah yang menggiurkan, maka dialah yang akan dipilih. Pragmatisme itulah yang mendorong lahirnya praktik politik uang.

Saya teringat celotehan paman dari pacar saya yang mengatakan dia tidak akan menggunakan hak pilihnya jika tidak ada yang membayar dia. Sebuah celotehan yang dianggap sepi oleh pacar saya.

Massa mengambang, alias massa yang tidak memiliki basis pendirian politik berdasarkan ideologi yang kuat dalam sejarahnya tercipta di masa Orde Baru. Orde pimpinan Soeharto itu berkepentingan agar massa menjadi mengambang, tidak ideologis tapi pragmatis berorientasi materi, agar mudah dikontrol demi tujuan menciptakan “pembangunan”.

Sejatinya “pembangunan” itu berhasil. Indonesia tumbuh menjadi macan industrik di Asia. Berdiri di atas massa yang rapuh. Massa yang hanya ikut-ikutan serta tidak ideologis, sama seperti partai yang tidak ideologis dalam praktik.

Karena rapuh dan ikut-ikutan, tentu saja massa begitu terkesima dengan lakon teraniaya yang dimainkan oleh SBY ketia pemilu 2004. Setelah memilih sang jenderal, barulah dirasakan ternyata sang pemimpin yang tinggi besar itu sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan, di samping berbagai cerita miring seputar geliat bisnis keluarga besarnya (anak serta ipar).

Ya itulah Indonesia kini. Politik, yang di massa Orde Lama, mendasarkan gerakannya pada pengerahan massa ideologis disulap oleh Orde Baru dan dilanjutkan oleh Orde Reformasi menjadi sekedar simbolisasi tanpa makna yang mendalam. Massa hanya dijadikan objek pada saat tahun politik. Selebihnya, dianggap sepi lalu.

Mari kita renungkan cara bangsa ini berpolitik, walau mungkin masing-masing pembaca tergolong bukan partisan. Jika kita menganggap diri bukan pragmatis, muncul pertanyaan lanjutan, sudah ideologiskah kita? Ingat tanpa ideologi, kita bagai berjalan tanpa arah. Serba tidak jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s