Sipri Atok Sang Sastrawan

Adalah dia yang bernama Sipri Atok. Nama itu tiba-tiba mencuat saat saya melakukan pencarian di Google tentang sastra Nusa Tenggara Timur (NTT).

Beberapa kenangan lama kemudian muncul, melompat-lompat sehingga memaksa saya untuk mereka-reka ingatanku akan kisah Sipri Atok. Hal yang mengingatkan saya akan dia hanyalah satu, puisi. Ya dia memang gemar menulis sajak sejak SMA, saat menjadi kakak kelas saya.

Saya pernah mengenyam masa SMA yang singkat, sekitar 2 caturwulan di SMA Negeri Atambua, sebelum akhirnya hijrah kembali ke Larantuka. Lingkungan sekolah tersebut merangsang para murid yang memiliki ketertarikan di dunia sastra untuk berkarya, membuat puisi, prosa atau esai seni budaya.

Saya masih mengingat nama Usman D. Ganggang, salah seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang juga pencinta sastra. Dia sanggup memotivasi para muridnya untuk berkarya. Suatu ketika, saat puisi pertama saya terbit di Pos Kupang edisi Minggu, dia menyuruh Ketua Ketua Osis memanggil saya, kemudian memberikan ‘hadiah’ berupa ucapan selamat.

Ucapan itu berbekas dalam memori saya sehingga begitu memotivasi saya untuk belajar menulis puisi, untuk sekali lagi belajar mencintai sastra.

Sebagai koran tertua di NTT saat ini, Pos Kupang memainkan peranan penting dalam merangsang minat sastra warga provinsi kepulauan tersebut. Saat itu, rubrik sastra Minggu diasuh oleh salah seorang sastrawati yang bernama Maria Mathildis Banda, seorang alumnus SMA Syuradikara, istri dari seorang dokter. Wanita itu sudah melahirkan sekian banyak karya seperti Novel Rabies yang menceritakan keguncangan sosial masyarakat Ngada saat wabah rabies merebak di Flores, serta cerita bersambung Surat dari Dili.

Dalam rubrik sastra itu, Maria yang bertugas selaku redaktur memberikan kritik terhadap setiap karya baik itu puisi dan cerpen yang terbit pada edisi tersebut. Sampai saat ini saya tidak tahu apakah Pos Kupang masih mempertahankan Maria sebagai redaktur rubrik tersebut serta mentradisikan budaya kritik sastra.

Kembali soal Sipri Atok, sewaktu SMA, dia mengambil Jurusan Bahasa yang hanya memiliki 1 rombongan belajar. Di masa saat itu, apalagi sekarang, bahasa dan sastra menjadi pilihan terakhir. Orang lebih memilih jurusan IPA yang katanya lebih berkelas atau IPS di urutan kedua, dibandingkan bahasa dan sastra. Padahal tanpa bahasa dan sastra, manusia terlihat seperti robot, tanpa perasaan.

Sipri saat itu, mungkin hingga saat ini, gemar menulis puisi. Dia juga gemar mengirimkan karya-karyanya ke Pos Kupang, melalui jasa pos. Bayangkan, dalam 1 semester, dia sudah mengirimkan 100 karya ke Pos Kupang. Lantaran hal itulah secara khusus Pos Kupang menampilkan 100 sajaknya pada suatu edisi.

Terbitnya edisi tersebut membuat Sipri agak jumawa dan hampir sombong serta pamer. Dia kemudian dikritik oleh salah seorang senior SMA saya, Januario, warga eks Tim-Tim. Januario mengatakan nama Sipri bisa nangkring hampir setiap pekan di rubrik sastra Pos Kupang karena dia memiliki uang untuk mengirimkan karya-karyanya.

Ya saat itu sambil sekolah, Sipri juga bekerja sebagai tenaga umum di Pastoran Paroki Katedral Maria Imakulata Atambua. Ada sebuah kamar kecil di sebelah pastoran yang menjadi tempat tinggalnya. Setiap hari dia bertugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai dari membersihkan lantai, sampai mencuci piring dan perlengkapan makan para pastor. Saya ingat, kami sering bertandang ke kamar kecilnya pada jam seusai para pastor makan malam, sekedar ingin mencicipi makanan parap astor yang masih tersisia di rantang.

Nah, dari pekerjaan itulah Sipri mendapatkan gaji, sekian puluh ribu rupiah setiap bulannya. Dengan uang itulah dia bisa mengirimkan karya-karyanya ke Pos Kupang. Saat itu seingat saya Pos Kupang tidak memberikan honor bagi penulisan karya sastra, entah saat ini.

Waktu kemudian bergulir cepat. Saya pindah ke Larantuka, kemudian melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, lalu saat ini hijrah di Jakarta. Informasi yang saya terima, Sipri saat ini berprofesi sebagai jurnalis, sepertinya TVRI.

Apakah saat ini dia masih seproduktif dulu? Entahlah. Tapi saya mengenang dia sebagai sastrawan handal sehingga puisi di bawah ini secara khusus saya karang buat Sipri Atok.

Pujangga Dari Timur

(Untuk Sipri Atok)

Kita bersua pada suatu masa

Di tepi jalan kala surya masih enggan bersinar

Dan dedaunan masih lembab dipoles embun

Kau mengangguk saat kusampaikan tabik

Sesudah itu, seluruh perhatianmu tenggelam dalam goretan pena

Lalu hentakan mesin tik bertalu-talu menyusul di belakangnya

Setan apa yang merasukimu

Hingga ayat nan indah mengucur deras

membasahi masa-masa remaja kita dulu?

Adakah ilham itu datang menghampiri

Kala genta berdengung kencang di pucuk katedral?

Atau mampir begitu saja

Bersama buih sabun yang melumuri piring-sendok

Di dapur pastoran?

Chairil Anwar pun pasti iri seketika

Saat kusebutkan angka kegigihanmu

Seratus

Itulah buah bulir-bulir keringatmu kawan

Masihkah masa lampau itu kau kenang?

Malam ini kukenang dirimu

Mengenang jejak-jejakmu

Yang mengharubirukan nusa

Jakarta 16 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s