Kucing

Ah sudah lama blog ini tidak saya perbaharui. Entahlah, akhir-akhir ini saya sangat jarang membuka wordpress karena ada banyak kesibukan yang menguras perhatian. Tapi bukan berarti jeda ini memupuskan ide untuk menulis. Sama sekali tidak pernah terlintas.

Baiklah mungkin, dalam edisi kali ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah hewan yang kerap disapa kucing. Entah mengapa,nama hewan satu ini ‘kucing’ memiliki banyak konotasi yang sejatinya tidak ada kaitan sama sekali dengan binatang kucing itu.

Lihat saja, ada istilah kucing garong yang berkonotasi sebagai pria playboy yang doyan kawin. Ada juga istilah nasi kucing, sajian khas Yogyakarta yang terhidang di kereta angkringan. Bahkan ada istilah mandi kucing yang dikenal sebagai salah satu service yang dilakukan para penjaja cinta sesaat, entah pria maupun wanita.

Tapi tenang saja. Apa yang ingin saya katakan kali ini benar-benar tentang kucing. Jauh dari berbagai istilah dan konotasi di atas.

Setelah beberapa bulan tinggal di wilayah Karet Tengsin, saya makin menyadari ternyata populasi kucing di gang tempat tinggal saya sangat banyak. Entah berapa ekor jumlahnya tapi yang pasti sangat banyak karena setiap hari saya selalu menjumpai kucing yang berbeda motif bulunya.

Populasi kucing itu terancam membludak karena beberapa kucing yang saya temui ternyata berada dalam kondisi berbadan dua alias bunting. Satu ekor betina bisa melahirkan 3-5 ekor anak kucing dalam sekali kelahiran. So, bisa dibayangkan sendiri berapa banyak populasinya.

Tidak ada yang tahu mengapa RW 6, tempat tinggal saya yang diapit makam Karet Tengsin serta Karet Bivak itu terdapat banyak kucing. Apa mungkin awalnya kucing di lokasi tersebut merupakan kucing peliharaan kemudian beranak pinak sehingga populasinya menjadi banyak dan sebagian besarnya menyandang predikat kucing liar? Entahlah.

Saya jadi teringat tentang sebuah lagu yang berjudul Gang Kelinci karangan penyanyi kondang Titiek Puspa. Dalam lagu itu, ia menceritakan tentang sebuah gang yang konon katanya merupakan kerajaan kelinci mengingat banyaknya populasi hewan yang dijadikan sebagai lambing majalah pria dewasa Playboy tersebut.

Akan tetapi, masih menurut lagu tersebut, para kelinci akhirnya terdesak dan jumlahnya kemudian menyusut bahkan punah akibat terdesak oleh kedatangan manusia. “Karena manusia bertambah banyak, kasihan kelinci terdesak”.

Mungkin jika Titiek Puspa hidup di RW 6 Karet Tengsin, dia akan menciptakan sebuah lagu berjudul Gang Kucing. Hewan yang tidak pernah terdesak meski manusia makin membludak di salah satu sudut ibukota tersebut.

One thought on “Kucing

  1. Setiap tahunnya dinas peternakan Jakarta, yg diragunan ada steril gratis untuk kucing kucing tak liar untuk menekan populasi.. coba deh cari tahu apakah mereka masih ada kuota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s