Teror Itu Bernama Banjir

Topik tentang banjir masih menyita perhatian publik, di samping aksi ibu negara Any Yudhoyono yang terkesan norak dalam menanggapi komenter followers akun instagramnya. Jakarta siaga, Manado hancur lebur.

Berbicara soal bencana satu ini, sejatinya saya belum pernah menjadi korban secara langsung. Seingat saya, saat masih kanak-kanak pernah banjir kecil melanda kompleks Perumnas Kupang, akibat luapan sungai kecil di luar kompleks. Namun kala itu rumah kami aman-aman saja karena terletak sedikit lebih tinggi dibandingkan deretan rumah lainnya.

Saat Kelas 3 SMA, di Larantuka, Flores Timur, banjir bandang menerjang dan menelan korban sekitar tujuh orang. Beruntung tempat tinggal kami  terletak agak jauh dari lokasi kejadian. Hanya saja peristiwa itu turut mempengaruhi aktivitas saya karena rute jogging terputus karena ditimbun material banjir seperti batu dan pasir.

Semasa kuliah di Yogyakarta, banjir juga terjadi jika hujan lebat turun dalam jangka waktu yang lama. Tentu saja daerah-daerah yang diterjang air bah berada di tepi sungai. Pernah ada kejadian banjir menerjang tambak ikan di dekat kost saya. Ada juga rumah kenalan, pedagang ayam bakar, yang diterjang banjir setinggi dada orang dewasa.

Di Jakarta, sampai saat blog ini saya perbaharui, saya belum resmi menjadi korban banjir. Tapi, air bah itu mengintai kamar kost saya setiap saat. Ya, saya tinggal di lantai dasar sebuah bangunan tiga lantai di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang. Lokasinya dekat dengan Bendungan Hilir (Benhil). Nahas, saat memutuskan untuk tinggal di situ, tidak ada pilihan kamar kosong di lantai atas sehingga mau tidak mau, kamar itulah yang saya pilih.

Setelah resmi membayar, barulah rekan saya menginformasikan kalau kost tersebut rawan kebanjiran. Tahun lalu, saat banjir besar melanda ibukota, air masuk ke kost setinggi dada. Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur.

Beberapa hari lalu, banjir kembali melanda Jakarta. Kost saya hampir kebanjiran. Bayangkan, jarak air dan kost saya hanya sekitar 15 meter!. Semua barang-barang di lantai satu diungsikan ke lantai atas. Saya juga ikut-ikutan mengungsikan kasur dan bantal. Barang lainnya saya naikkan ke atas lemari.

Di luar, warga yang rumahnya kebanjiran juga turut mengungsi ke tempat yang lebih tinggi beserta barang berharga seperti pakaian, bahkan mobil serta sepeda motor. Aroma kepanikan menyeruak di lokasi itu.

Semenjak saat itu, setiap malam tidur saya tidak nyenyak. Perasaan terancam oleh banjir begitu menggelayuti. Saking parnonya, setiap berangkat kerja, kasur-bantal selalu saya ungsikan ke atas lemari sembari berharap jika akhirnya terjadi banjir, cukup sampai betis sajalah. Jangan tinggi-tinggi Tuhan.

Ini merupakan satu dari sekian banyak pengalaman baru saya di ibukota. Kota uzur yang rapuh karena dibebani jumlah penduduk segudang, lautan bangunan beton, serta sampah yang menggunung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s