Setelah tinggal di Jakarta selama sebulan, saya melihat ada 2 pola tingkah laku yang dilakukan mayoritas warga ibukota. Apa sajakah pola-pola itu?

Pertama, kebiasaan membunyikan klakson. Seperti jamak diketahui publik, kota ini merupakan kampungnya kemacetan lalu lintas, terutama pada jam pergi dan pulang kerja. Mungkin karena kemacetan, pengendara begitu mudahnya mengobral suara klakson.

Cara mereka membunyikan klakson juga menurut saya, polanya serupa. Klakson dipencet selama mungkin. Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip..seperti itulah kira-kira bunyinya. Jika belum terbiasa, otomatis para pendatang baru di Jakarta akan merasa terganggu dengan raungan itu, termasuk saya. Tapi jika sudah begitu, yang bisa saya lakukan hanya tersenyum bahkan tertawa. Cara ini agaknya cukup ampuh mengusir stres akibat kemacetan.

Kebiasan berikutnya, adalah penggunaan tissu. Saya yakin, produk tissu paling banyak dibeli warga Jakarta setelah obat nyamuk. Sepemantauan saya, hampir semua warga kota ini membawa tissu dalam tas kerjanya, entah itu pria atau wanita.

Jika dipikir-pikir, logis juga. Jakarta hawanya lumayan membakar. Gerah hingga akhirnya melahirkan keringat bercucuran. Untuk menyekanya, saputangan sudah ketinggalan zaman. Sekarang saatnya tissu. Sekali pakai langsung, bles jadi sampah.

Tapi ya itu. Kebiasaan ini menimbulkan efek bertambahnya sampah. Tidak hanya itu saja pembaca. Namanya juga tissu, tentu saja terbuat dari kertas yang terbuat dari kayu. Kayu adalah pohon. Jika sering menggunakan tissu, otomatis makin banyak pohon yang ditebang, dan bumi semakin panas.

Ya itulah kebiasaan warga Jakarta. Polanya sama, dan tiada berkesudahan.

Advertisements