Kematian dan Makam

Kematian merupakan sebuah fase dalam kehidupan setiap manusia. Suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Beberapa hari belakangan, fase tersebut beserta tetek bengeknya melintas di benak, menelisik di sela-sela kesibukan saya.

Semua berawal dari pantry lantai 7 di kantor. Saban siang, saya kerap duduk dan bekerja di lokasi tersebut, karena ada fasilitas kabel LAN internet. Dari lokasi itu, saya bisa melihat dengan sangat jelas pemakaman Karet Pasar Baru, Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta, yang membentang luas di sisi sebelah timur. Saban hari, selalu saja ada penghuni kompleks pemakaman tersebut.

Ritualnya selalu sama. Rombongan pembawa jenazah datang dengan perlengkapan bendera kuning, dan sering bertindak arogan di jalan raya dengan menerabas traffic light, mirip konvoi partai politik atau supporter tim sepakbola, kemudian sampai ke kompleks pemakaman, menguburkan jenazah, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Lokasi seputar makam yang awalnya ramai, spontan sepi, dan hanya menyisakan beberapa tukang gali kubur yang merampungkan makam baru tersebut. Kemudian, semua kembali sepi.

Mati berarti tidak bermakna lagi karena seluruh sel berhenti beraktivitas. Jasad kemudian akan bernasib sama seperti tikus got yang mati terlindas roda kendaraan di tengah jalan. Membusuk, hancur menyatu dengan tanah, dan menghilang.

Akan tetapi, hanya jasad yang mati. Kenangan akan jasad yang mati, akan terus dikenang oleh siapa saja yang masih hidup dan mengenal pribadinya. Bahkan, terkadang upaya mengenang nama orang yang telah mati, menjadi agak berlebihan. Di kampung halaman saya misalnya. Makam dari orang yang telah mati, oleh sanak keluarganya, dipoles seindah mungkin.

Fungsi makam yang tadinya sebagai tempat mengebumikan orang mati kemudian berubah rupa menjadi tanda kepongahan manusia yang masih hidup yang menerakan status sosial, kebangsawanan atau ketokohan di makam orang yang telah mati. Ambil misal, makam mendiang Ustad Jefri Al-Buchori yang juga dikuburkan di pemakaman dekat kantor saya itu. Karena dia merupakan tokoh kondang, oleh keluarga, makamnya dibuat beda dengan ornamen marmer setinggi kurang lebih 1 meter. Padahal, sesuai standar dari otoritas pemakaman Pemda DKI, makam hanya boleh setinggi kira-kira 30 sentimeter.

Bahkan, oleh orang yang masih hidup, pemakaman kemudian menjadi medan pengkotak-kotakan manusia yang telah mati. Di pemakaman Karet Bivak contohnya. Makam tersebut dibagi menjadi blok-blok tertentu berdasarkan agama. Bukankah orang mati itu sejatinya sama? Sama-sama telah mati, dipanggil Tuhan, katanya. Lalu, mengapa mereka harus dibeda-bedakan, berdasarkan agama pula.

Karena itulah, tidak salah jika saya katakana tadi bahwasannya fungsi makam sejatinya telah bergeser. Makam bukan kebutuhan bagi orang mati, agar bisa dikebumikan secara manusiawi. Makam menjadi kebutuhan bagi manusia yang masih hidup. Kebutuhan pengakuan akan status sosial, dan kekayaan.

Tengok saja kompleks pemakaman mewah seperti St Diego Hills di Karawang. Makam dibuat semenarik dan senyaman mungkin, dengan biaya yang tidak sedikit tentunya. Tapi apakah itu dikreasikan untuk orang mati yang ditanam di kompleks tersebut? Tidak, kenyamanan dan kemewahan itu hanya untuk orang yang masih hidup.

2 thoughts on “Kematian dan Makam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s