Sitok Srengenge dan Arya Dwipangga

Belum lama ini berbagai media ibukota ramai memberitakan kasus perbuatan tidak menyenangkan beraroma zinah yang dilakukan penyair Sitok Srengenge terhadap salah satu mahasiswi Universitas Indonesia. Gadis itu, kini harus menanggung beban psikologis karena mengandung anak sang penyair.

Ceritanya, kedua insan itu bertemu dalam sebuah perhelatan. Selepas itu, korban (sang mahasiswi), menjalin komunikasi dengan Sitok dan mulai muncul rasa kagum terhadap penyair Salihara tersebut lantaran sering mendapatkan kiriman puisi dari Sitok Srengenge. Saking ngefansnya korban kepada Sitok dia rela menyusun skripsi di mana narasumber utamanya adalah Sitok.

Cerita kemudian berlanjut dimana Sitok kemudian mengajak korban ke kost-nya di bilangan Pasar Minggu, Jakarta. Di sana, pintu kamar kemudian dikunci, dan korban, yang usianya bahkan lebih muda dari umur putri Sitok, kemudian diajak berhubungan layaknya suami-istri. Tidak hanya sekali, bahkan berulang kali, hingga akhirnya korbanpun berbadan dua.

Kasus ini kemudian mencuat setelah pihak UI melaporkan Sitok ke polisi. Menanggapi perkara itu, tempointeraktif.com, yang notabene memiliki hubungan emosional dan biologis dengan Gunawan Mohammad, pendiri Salihara sekaligus empu-nya Tempo Grup, terkesan melakukan pembelaan terhadap Sitok. Content berita tidak konsisten mengorek kasus tersebut, tapi diserongkan menjadi berita di mana putri Sitok berupaya membela bapaknya dengan mengatakan ayahnya siap bertanggung jawab, serta istri Sitok yang menuliskan status di jejaring facebook bahwa dia akan tetap mendampingi sang suami melalui masa-masa sulit tersebut.

Terlepas dari semua itu, proses hukum tetap berjalan meski korban sulit diperiksa karena saat ditanyai oleh polisi, raganya tak kuasa, hingga ia langsung jatuh pingsan. Informasi yang berkembang liar kemudian menyebutkan korban lain pun bermunculan.

Saya tidak bermaksud mendahului proses hukum yang bakal memutuskan Sitok bersalah atau tidak. Akan tetapi, jika benar Sitok melakukan berbagai perbuatan tersebut, maka dia pantas diangerahi gelar Penjahat Kelamin (PK) alias playboy.

Modus untuk menaklukkan hati lawan jenis dengan mengirimkan puisi menjadi ciri khas sang penyair. Ada kenalan saya, seorang jurnalis sebuah surat kabar terbitan ibukota yang pernah mendapatkan kiriman puisi tersebut. Ceritanya dia pernah mewawacarai Sitok dan akhirnya hubungan mereka berlanjut melalui ponsel. Beruntung, saat dihujani puisi-puisi nan romantis, teman saya itu masih menjejakkan kakinya ke bumi, sehingga tidak terbuai. Merebaknya kasus Sitok di media massa kemudian melahirkan rasa benci dalam hati teman saya tersebut terhadap Sitok.

Masih soal modus Sitok, teknik yang dia lakukan mengingatkan saya akan lakon sandiwara radio Tutur Tinular, dengan tokoh antagonisnya, Arya Dwipangga. Boleh jadi Sitok Srengenge menduplikasi apa yang dilakukan Arya Dwipangga, sang pendekar syair berdarah itu.

Ceritanya, ada sepasang suami-istri asal negeri Tiongkok. Sang suami saya lupa namanya, tapi istrinya bernama Meisin (Mei Chin?). Mereka datang ke Tanah Jawa membawa Pedang Nagapuspa nan saksi, buatan seorang empu sakti. Karena dalam sebuah pertempuran, sang suami akhirnya tewas, namun Meisin dapat diselamatkan Arya Kamandanu, adik dari Arya Dwipangga..

Selepas itu, sang putri dari Tiongkok kemudian dirawat di rumah keluarga besar Arya Kamandanu. Lama-lama, muncul rasa cinta antara Meisin dan Kamananu. Arya Dwipangga yang saat itu sudah berstatus duda beranak satu, sering datang menghampiri, umumnya dalam kondisi mabuk berat.

Sama seperti Sitok, Dwipangga yang namanya diabadikan menjadi nama kereta api eksekutif tersebut, mengeluarkan jurus maut dengan mengirimkan untaian kata-kata berwujud sajak yang luar biasa indahnya. Meisin kemudian terpikat dan berhasil ditiduri hingga hamil. Mengetahui hal itu, Arya Kamandanu yang memiliki ilmu kanuragan lantas menghajar kakaknya yang tidak mahir membela diri. Dwipangga lantas terluka parah dan melarikan diri.

Meisin yang stres berat, sempat ingin mengakhiri nyawanya dengan cara bunuh diri tapi bisa dicegah Kamandu. Dia tetap diterima dan dirawat hingga usia kandungannya genap 9 bulan. Sayang, saat melahirkan bayi yang berjenis kelamin perempuan, Meisin kemudian meninggal.

Seingat saya, kala itu masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak, sandiwara berlatar belakang zaman Majapahit tersebut sangat dinanti-nantikan. Saat jam siaran, kami sekeluarga duduk mengitari radio dan serius mendengarkan kisah tersebut. Maklum saat itu kami tidak memiliki televisi.

Kembali ke soal Sitok, terbukti modus yang dilakukan penyair tersebut sifatnya pasaran, bukan merupakan cara baru yang elegan. Kasus ini harus menjadi pelajaran, bagi kaum pria, agar tidak serampangan melakukan bujuk rayu demi keinginan sesaat. Sementara bagi kaum perempuan, sebaiknya lebih waspada sehingga tidak terjebak dalam persoalan semacam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s