Ladang Pembantaian “Komunis” di Flores Timur

Dua hari yang lalu, sebelum blog ini diperbaharui, saya berkesempatan kembali ke Yogyakarta, kota yang telah 3 pekan lamanya saya tinggalkan. Niatnya cuma satu, mencetak kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Sebelumnya kartu milik saya hilang setahun silam, bersama dompet dan segala isinya yang lain.

Setelah menyelesakan segala urusan, saya bersiap kembali ke Jakarta di hari yang sama. Sembari menunggu jam keberangkatan kereta, sekitar pukul 18.30 WIB, saya berkesempatan mengunjungi Toko Buku Gramedia di Ambarrukmo Plaza. Banyak buku bagus di sana, namun sayang, isi dompet sedang krisis moneter, jadi nafsu memborong buku terpaksa harus dikendalikan.

Meskipun demikian, saya akhirnya membeli satu buku yang menurut saya teramat bagus. Buku terbitan Tempo yang berjudul Pengakuan Algojo 1965. Buku tersebut merupakan terbitan lain dari laporan investigatif majalah tersebut 2012 silam, dan berisi pengakuan para algojo pembantaian massa yang diduga merupakan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Para korban tersebut dibantai tanpa menjalani proses pengadilan.

Pihak Nahdlatul Ulama (NU) beserta organisasi kepemudaan Anshor beserta Banser-nya memiliki sejarah kelam keterlibatan dalam pembantaian yang hingga kini belum ada angka pasti berapa banyak korbannya tersebut. Generasi NU zaman sekarang (juga HMI), suka atau tidak suka, harus mengambil pelajaran dari masa lalu di mana senior-senior mereka, menjadi elemen yang aktif dalam pemusnahan sesama warga negara itu, di samping tentu saja militer beserta intelijen kala itu.

Dalam salah satu bab, ada dua artikel yang ditulis Yohanes Seo, kontributor Tempo untuk wilayah NTT. Dia menceritakan seputar tragedi pembantaian di wilayah Kabupaten Sikka. Saat itu, ada seorang pastor yang menentang pembantaian tersebut tapi akhirnya dianggap menentang penguasa. Karena tidak ingin terjadi konflik yang berkepanjangan, pastor tersebut kemudian dipindahtugaskan. “Tentara menjadi Tuhan Allah, [yang bebas menentukan hidup dan mati seseorang],” kata pastor tersebut.

Ada juga kisah tentang Bapak Tengkorak, seorang algojo yang tinggal di Maumere, ibukota Sikka. Zaman itu, ia merupakan seorang narapidana karena membunuh pamannya sendiri. Setelah divonis, baru beberapa bulan menjalani masa tahanan, ia direkrut pihak militer untuk menjadi algojo dengan embel-embel melaksanakan tugas negara serta di bawah ancaman, jika ada korban yang lolos maka nyawa 2 algojo sebagai penggantinya. Setelah berhasil menunaikan tugasnya, memenggal kepala para korban, ia dibebaskan dari masa tahanan, setelah sebelumnya diberi beras dan uang.

Sama seperti wilayah lain di Indonesia, pembantaian terhadap warga yang dituding sebagai anggota PKI atau sekedar simpatisan, terjadi hampir di seluruh wilayah NTT. Di Larantuka, Flores Timur, tempat asal saya, orang pasti mengingat sebuah tempat bernama Pura, di sebelah timur kota, masuk dalam wilayah Kelurahan Weri saat ini.

Di tempat itu, entah berapa banyak warga kabupaten tersebut (termasuk dari Lembata) menjadi korban. Kakek saya (bapak dari ibu) yang semasa hidupnya berprofesi sebagai guru, termasuk guru agama dan anggota Partai Katolik, pernah diperintahkan untuk mendatangi lokasi pembantaian dan memberikan pendampingan rohani kepada para korban serta para algojo.

Menurut ceritanya, yang diteruskan oleh orangtua saya, di tempat tersebut sudah ada sebuah lubang berukuran besar. Kemudian para korban berbaris satu persatu dan langsung ditebas lehernya oleh para algojo yang mengenakan penutup wajah. Pernah ada kejadian, saking ketakutan, salah seorang korban keburu melompat ke dalam lubang sebelum lehernya ditebas. Dia kemudian ditarik dari lubang, dan langsung dieksekusi.

Ada juga cerita mencekam lainnya. Gejolak pasca-1965, ibu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Zaman itu, untuk memasak bahan bakarnya bukanlah kayu, melainkan serbu kayu yang diambil di bengkel kayu milik missi katolik. Untuk mengambil serbuk tersebut, ibu saya dan saudara-saudarinya, serta teman seusia, harus melewati penjara lama, yang berada di kompleks Komando Distrik Militer (Kodim) Flores Timur saat ini. Bangunan penjara tersebut telah rata tanah, dan beralih fungsi menjadi Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Kelurahan Lokea.

Saat melewati lokasi tersebut, selalu saja terlihat di halaman, ada tahanan (korban 1965) yang menjalani siksaan. Punggung mereka dicambuk dengan buntut ikan pari yang berduri, kemudian disiram dengan air perahan jeruk nipis. Kebayang betapa perih dan menderitanya para korban tersebut. Belum lagi adegan ekstrim lainnya, di mana telinga para korban dipotong dan digantung di pagar penjara. Bayangkan, adegan kejam tersebut dijadikan tontonan di muka umum dan disaksikan anak-anak berusia SD seperti ibu saya!.

Suatu ketika, di seputaran kompleks pertokoan Larantuka, ibu saya melihat ada beberapa tahanan yang baru didatangkan dari Pulau Adonara menggunakan kapal kayu. Sesampai di pelabuhan, yang berada tidak jauh dari pertokoan tersebut, para tahanan disuruh berjalan sammbil jongkok, dengan tangan di kepala. Sepanjang jalan, menuju ke penjara, yang juga tidak terlampau jauh dari pelabuhan, para tahanan tidak henti-hentinya dipukul oleh para tentara.

Satu di antara tahanan tersebut, menurut ibu saya masih memiliki tali kekerabatan dengan keluarga kami. Dia seorang muslim, bergelar haji, bertubuh tambun dan berusia kala itu menjelang 50 tahun. Hampir dapat dipastikan sang haji turut menjadi korban pembantaian di Pura.

Lokasi tersebut kini bernama Pura, karena sekitar 1980-an dijadikan kompleks rumah ibadah warga Hindu di Larantuka. Meski telah menjadi kompleks rumah ibadah, lokasi tersebut tetap dianggap sebagai tempat angker, apalagi jika dilewati saat malam hari.

Itulah sepenggal kisah pembantaian korab 1965 di Flores Timur, NTT. Para korban dibantai secara sistematis. Ditangkap oleh tentara, di banyak tempat daftar nama para korban diserahkan oleh tentara kepada milisi sipil, kemudian dieksekusi. Semua itu tentu saja atas sepengetahuan Soeharto, panglima komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban, mantan presiden kita. Dengan melihat fakta-fakta itu, pantaskah dia diberi gelar pahlawan? Tidak!.

3 thoughts on “Ladang Pembantaian “Komunis” di Flores Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s