Balada Kota Tua

Entah mengapa, saya sangat menikmati jika berkunjung ke museum atau bangunan tua peninggalan masa kolonial. Dua bangunan itu laksana peti harta karun yang menyimpan sejuta cerita masa lalu dan bisa dijadikan pelajaran untuk menghadapi masa depan.

Untuk mengisi waktu libur lantaran masih berstatus pengangguran, hari ini saya mengunjungi wilayah Kota Tua di Jakarta. Dari Stasiun Jatinegara, saya menumpang commuter line menuju Stasiun Kota. Di dalam kereta, saya menjumpai pasangan bule asal Inggris yang juga berencana mengunjungi Kota Tua. Mereka pun berencana mengunjungi Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, tempat asal saya. Sesampai di sana, dengan sedikit kesulitan menyeberangi jalan yang ramai, akhirnya saya sampai di Museum Bank Indonesia.

Bangunan tua tersebut dulunya merupakan kantor De Javasche Bank, atawa bank sentral di masa kolonial. Menariknya, setiap pengunjung tidak dipungut biaya ketika memasuki museum tersebut. Sayang waktu kunjungan cuma tersisa 20 menit karena saya tiba di museum pukul 15.30 WIB. Otomatis hal itu melahirkan ketidakpuasan karena setiap benda atau keterangan sejarah, hanya saya baca secara sambil lalu.

Selepas dari museum tersebut, dengan berjalan kaki, saya mengunjungi kawasan Kota Tua seperti areal Taman Fatahilah, serta bangunan tua lainnya. Sayang semua museum selain Fatahilah, seperti Museum Keramik dan Wayang tidak sempat dikunjungi lantaran waktu kunjungan telah berakhir.

Di seputaran areal Fatahilah, saya menjumpai segerombolan pelajar SMP, yang sepertinya tengah mengikuti tur fotografi sebagai salah satu kestrakulikuler sekolah, ditemani salah seorang pengajar. Masing-masing dari para pelajar itu menggotong kamera SLR (Single Lens Reflect), yang saya taksir harganya lebih dari Rp3 juta.

Ada juga rombongan lain, yang sebelumnya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia. Di setiap bangunan, mereka menyempatkan diri untuk melakukan sesi foto bersama.

Berada di Kota Tua, angan-angan saya melayang jauh ratusan tahun silam. Saya membayangkan bagaimana orang Belanda di zaman itu mendesain areal tersebut, dengan sangat indah. Deretan bangunan berarstektur indis, lengkap dengna kanal-kanal.

Sayang, tidak sedikit bangunan di Kota Tua yang menunggu ajal, alias tidak terawat. Dindingnya keropos, atapnya jebol, bahkan ada bangunan tua yang di tengah-tengahnya berdiri sebatang pohon besar, pertanda sudah lama bangunan tersebut tidak mendapatkan dirawat.

Revitalisasi bangunan tua di areal tersebut sejatinya telah dilaksanakan sejak zaman Gubernur DKI Seorjadi Soedirja 1994 silam. Namun, hingga kini sepertinya program tersebut tidak memberikan kemajuan yang signifikan lantaran masih sangat banyak bangunan tua yang tidak terawat dengan baik.

Di Semarang, Jawa Tengah, lebih mengenaskan lagi. Kawasna Kota Lama, terlihat kusam dan tidak terurus. Padahal, jika dikelola dengan baik dan didorong menjadi lokasi kunjungan wisata, tentu kawasan tersebut akan terasa lebih hidup.

Amat disayangkan, jika di kemudian hari, berbagai bangunan yang tidak terawat itu kemudian roboh dan generasi muda di masa mendatang, akan kehilangan kepingan sejarah bangsanya sendiri.

2 thoughts on “Balada Kota Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s