Menjadi Pengangguran

Sudah sepekan ini, saya hijrah ke Jakarta dari Yogyakarta. Tujuannya, jelas, saya ingin mencari pengalaman baru di ibukota lantaran sudah terlampau lama tinggal di Kota Pelajar tersebut. Atas tujuan itulah, saya terpaksa harus mengundurkan diri dari pekerjaan yang hampir 4 tahun saya geluti, dan mencari pekerjaan baru di Jakarta.

Saat menulis blog ini, saya masih berstatus pengangguran. Pekan lalu, beberapa hari setelah menjejakkan kaki di Jakarta, saya langsung mengikuti interview kerja, serta psikotes. Interview berjalan lancar, tapi psikotes agak mengkhawatirkan. Kata orang, jika sudah bekerja, kemampuan psikotes pasti menurun. Entahlah, tapi memang dalam tes tersebut saya merasa performa saya kurang baik.

Yang paling merisaukan adalah Tes Pauli. Dalam tes itu, para peserta diberi selembar kertas berukuran lebar berisi urutan angka-angka 0-9 secara acak. Kami ditugaskan untuk menjumlahkan angka-angka tersebut secara berurutan dari atas ke bawah. Dalam tes itu, saya hanya mampu mengerjakan lebih ari setengah halaman. Padahal, peserta lainnya mampu menyelesaikan 1,5 halaman dalam kurun waktu 1 jam.

Semoga saja hasil tes itu tidak berakibat fatal bagi pekerjaan yang tinggal sejengkal lagi saya raih itu. Tapi misalkan tidak diterimapun, tidak masalah, saya siap mencari pekerjaan yang lain. Que sera sera, yang terjadi, terjadilah. Pasrah banget ya…

Seminggu di Jakarta, saya sudah mulai bisa beradabtasi dengan hiruk pikuknya. Jalanan yang macet, polusi yang luar biasa, serta kebisingan dan gaya masyarakatnya yang relatif individualis. Gaya-gaya seperti itu sebentar lagi bakal melekat dan menyatu dalam keseharian saya. Semoga saja, saya bisa beradaptasi lebih jauh, tanpa meninggalkan karakter asli saya yang kata orang cukup ramah dan penuh persahabatan.

Berbicara mengenai pengangguran, selama sepekan menjadi kaum tuna karya, saya mulai merasakan kejenuhan. Bangun pagi tanpa aktivitas yang menantang, benar-benar menjemukan. Untuk mengisi waktu, dan mengasah otak, yang bisa saya lakukan hanyalah berkeliling, membeli koran, membaca, serta menulis blog ini. Semoga saja kebosanan ini bisa pergi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2 thoughts on “Menjadi Pengangguran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s