Catatan Ulang Tahun

Rupanya saat ulang tahunku tahun ini, hujan turun lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bertahun-tahun sebelumnya, sehari jelang ultah, atau saat ultah, tidak ada hujan deras yang mampir.

Tahun ini beda. Malam jelang ultahku, hujan turun begitu deras. Alhasil, saya harus mendekam lebih lama di kantor. Sebenarnya bisa saja saya memaksakan diri untuk pulang, dengan memakai jas hujan sobek yang terlipat agak kurang rapi di balik jok sepeda motor. Tapi, bersua dengan hujan, yang pasti membasahi beberapa anggota tubuh, khususnya kaki, membuat saya enggan untuk terburu-buru kembali ke rumah.

Begitu hujan reda, segera saja motor butut yang setiap hari menemani, digeber dengan kecepatan santai, mampir ke sebuah warung nasi goreng, di pojokan kampus Fisip UPN Jogja, almamater saya. Warung itu, menjadi langganan semenjak saya mulai berkuliah, 2003 silam. Saya dan beberapa sobat lama menyebut nama warung nasi goreng ayam gantung lantaran ayam utuh yang dagingnya baal dicabik-cabik menjadi campuran nasi goreng, atau tongseng, atau bakmi.

Awalnya mereka, para pedagangnya yang berasal dari Gunungkidul, menempati sebuah lahan di seberang kampus. Akan tetapi medio 2007, mereka terpaksa harus pindah, lantaran ahan tersebut telah berubah menjadi deretan rumah toko alias ruko. Syukurlah mereka mendapatkan tempat agak lapang, di pojokan kampus, tepatnya di depan Koperasi Pegawai UPN.

Sesampai di sana, seporsi nasi goreng segera saya pesan. Syukurlah tidak perlu menunggu lama karena hidangannya segera mampir di depan mata. Eh, begitu hidangan selesai diantap, hujan turun lagi dengan derasnya. Terpaksa, saya harus tertahan sedikit lebih lama di warung itu.

Tahun lalu, saya menghabiskan malam jelang ultah di kamar,  di sebuah dusun, di Kulonprogo, tempat saya mengabdi 1,5 tahun lamanya. Dua tahun silam, seingat saya, malam itu juga saya habiskan di kamar. Tiga tahun silam, saya sempat menyantap nasi goreng di depan Swalayan Progo bersama rekan Denny Gendut yang berasal dari Kalimantan Tengah. Selebihnya, saya lupa, telah melakukan apa di malam menjelang usia bertambah usur.

Berbicara tentang ultah, ada rangkaian tradisi khusus yang dilakukan keluarga saya. Mulai dari bangun pagi dan pergi ke gereja, sekaligus mengucpkan syukur masih diberi umur yang panjang, kemudian menu makan siang berupa nasi kuning dengna lauk ayam. Unggas tersebut memang menjadi menu spesial karena sehari-hari, warga Flores Timur lebih sering mengkonsumsi ikan laut.

Bagaimana dengan tradisi perayaan ulang tahun? Ada juga di keluarga saya tapi biasanya hanya dirayakan saat usia mencapai 5 tahun serta 17 tahun. Entah mengapa hanya pada usia tersebut ada perayaannya dengan mengundang teman-teman sebaya. Mungkin orangtua saya ingin menanamkan nilai kesederhanaan di mana tidak ultah tidak tidak harus dirayakan setiap tahun.

Analisis saya, mengapa hanya ulang tahun ke-5, karena di lemari dapur milik mama, hanya ada 1 lilin ultah yang berbentuk angka 5 sehingga bisa digunakan untuk merayakan ultah keempat anaknya. Coba kalau setiap tahun harus dirayakan, tentunya mama harus membeli lilin baru yang dipakai hanya beberapa menit saja.

Berbicara tentang ultah ke-17, seingat saya, hanya kakak sulung yang merayakannya, mungkin juga adik bungsu, dan mereka adalah perempuan. Sementara para anak lelaki, kakak kedua dan saya, merayakan ultah sweet seventeen di asrama, mirip pesantren.

Masih soal ultah, sewaktu SMA, ada 3 murid yang ultahnya saling susul-menyusul,  mulai dari teman bernama Wan tanggal 19, Nando tanggal 20, dan saya tanggal 21. Suatu ketika, waktu kelas 3 SMA, bergulir ide untuk merayakan ulang tahun secara bersama-sama dan dirayakan 19 November, seingat saya hari sabtu. Soal lokasi, di rumah saya, mengingat saat itu orangtua sedang keluar kota.

Berbagai persiapan pun dilakukan mulai dari membeli bahan makanan seperti ikan berukuran besar, nasi serta sayur-mayur. Pesta pun dimulai, banyak rekan seangkatan,khususntya anak cowok,  yang datang, termasuk teman-teman anak asrama yang terpaksa membolos dengan cara melompati pagar asrama dan berjalan kaki beberapa kilometer.

Malam makin larut, kami pun makin berisik karena berada di bawa pengaruh alkohol. Sampai-sampai ada tetangga, yang memiliki anak balita, terpaksa melempar batu ke atap rumah, untuk menghentikan kebisingan itu.

Seingat saya, rumah kami yang sejatinya rumah dinas dan berukuran kecil, menjadi seperti rumah singgah. Pasalnya, setelah mabuk, teman-teman langsung tidur serampangan mulai dari ruang tamu, sampai ke ruang tengah dan kamar saya. Aroma alkohol menyeruak sampai pagi dan sebagian dari mereka pamit pulang ke rumah dan asrama.

Tinggallah saya, Berto, Nando dan Mande yang bekerja bakti mulai dari mencuci berbagai perkakasa yang dipakai memasak, makan, sampai mengepel lantai dan menata kembali kursi sofa.

Ituah beberapa pengalaman seputar ulang tahun. Semoga masih ada ulang tahun di tahun depan, agar ada kisah baru yang bisa saya bagikan di sini.

Jogja 20 November 22.30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s