Jogja Tinggal Kenangan!

Kenangan orang tentang Kota Jogja adalah kenangan tentang situasi daerah itu beberapa dasawarsa silam. Kenagan itulah yang membuat kota tersebut terus dirindukan oleh siapa saja yang pernah menginjakkan kakinya. Namun, kenangan itu, sulit disandingkan dengan kenyataan kini.”

Kutipan di atas mengemuka beberapa bulan silam, saat saya dan mantan dosen terlibat dalam suatu perbincangan di teras rumahnya. Tadi malam, perkataannya menemui kebenaran, saat salah seorang teman lama berkunjung ke Jogja.

Namanya Eman Charles. Dia merupakan lulusan D3 STMIK Amikom. Kami datang ke Jogja 10 tahun silam. Tiga tahun berselang, dia menyelesaikan diploma dan pulang ke kampung halaman, di Atambua, Kabupaten Belu, NTT.

Setelah mengikuti seleksi, akhirnya dia diterima sebagai karyawan PT Tabungan Pensiunan (Taspen) dan bertugas di Jayapura, Papua. Kedatangannya kali ini untuk mengikuti suatu pelatihan di salah satu hotel berbintang di bilangan Jalan Jenderal Sudirman, dekat Galeria Mall.

Semalam, ketika waktu mulai larut, kami sempat berkeliling menggunakan sepeda motor. Dia masih ingat beberapa sudut kota, tapi menurutnya sudah jauh berbeda.

Saat waktu sudah melewati tengah malam, dan ketika hendak pulang, jalanan sepi melambungkan kenangannya. Suasana sepi, tenang seperti inilah yang menurut dia benar-benar menampilkan suasana Jogja, dulu, ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa pengacara (pengangguran banyak acara).

Bagi orang yang bukan berasal dari Jogja, situasi kota yang penuh perubahan dan modern sungguh menakutkan dan tidak nyaman dikecap. Bukan karena anti terhadap pembangunan, tapi berbagai pembangunan yang terjadi saat ini benar-benar mendegradasikan nilai dan tatanan hidup masyarakat Jogja menjadi semakin individualis dan eksklusif.

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Orang Jogja sendiri tidak mampu melestarikan Jogja seperti kenangan beberapa dasawarsa silam, kenapa kita harus resah akibat semua pembangunan ini?,” kata salah seorang temanku suatu ketika.

Ya, dan saya mulai menulikan telinga, membutakan mata dan menumpulkan hati melihat perkembangan Jogja yang semakin modern, tidak ubah seperti kota-kota besar di negeri ini.

One thought on “Jogja Tinggal Kenangan!

  1. ““Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Orang Jogja sendiri tidak mampu melestarikan Jogja seperti kenangan beberapa dasawarsa silam, kenapa kita harus resah akibat semua pembangunan ini?,” kata salah seorang temanku suatu ketika” —> Betul, nikmati saja sisa2 kenangan lama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s