Welcome! Jogja Kota Preman

Kota Jogja sejatinya memang kota preman. Selama ini, publik menuding kaum pendatang sebagai preman, pascaperistiwa pembunuhan anggota Kopassus di Hugos’s Cafe serta tindakan balas dendan korps baret merah tersebut ke LP Cebongan, Sleman.

Sejatinya, orang yang mengaku berasal dari Jogja pun, banyak berkontribusi terhadap tindakan premanisme. Terakhir, puluhan massa Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) DIY menduduki Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Senin 28 Oktober 2013.

Mereka mengintimidasi LBH agar tidak mengadvokasi para korban penyerangan diskusi di Padepokan Santi Dharma, Godean, Sleman, sehari sebelumnya yang dilakukan oleh Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) DIY. Diskusi itu diikuti warga serta beberapa anak atau keturunan para korban peristiwa 1965.

FKPPI dan FAKI, masih berpandangan bahwa anak keturunan PKI bisa menyebarluaskan paham, yang pastinya tidak mereka pahami apa sebenarnya komunisme itu. Sungguh merupakan tindakan pemaksaan kehendak. Tindakan semacam itu tidak boleh dibiarkan hadir di muka bumi Indonesia.

Dalam sejarahnya, kelompok paramiliter semacam FAKI, dan juga FKPPPI di masa kini, sewaktu pergolakan 1965, merupakan kelompok yang dipersenjatai oleh militer. Mereka bertindak brutal, di luar koridor hukum dengan mengejar, dan mengeksekusi orang-orang yang dianggap PKI, bahkan pendukung Soekarno (Soekarnois).

Si Burhanudin, yang mengaku sebagai penasehat FAKI, dengan bangganya mengaku sudah banyak membunuh orang-orang yang dianggap komunis. Pria tua itu, dengan senyum lebar menceritakan kebodohannya. Bodoh, karena tidak menyadari, dia dipersenjatai untuk melanggengkan kekuasaan orde baru yang disokong penuh oleh barat.

Zaman itu, orde baru terus menerus menghembuskan kampanye antikomunis, termasuk mewajibkan pemutaran film G30S setiap 30 September. Dengan demikian, tertanam kesadaran masyarakat bahwa PKI itu harus diwaspadai. Padahal, pemahaman itu hanyalah upaya pengalihan semata agar warga tidak menyibukkan diri mengawasi jalannya roda pemerintahaan orde baru yang penuh tipu muslihat, dan menghambakan diri pada kepentingan kapitalisme serta pihak barat.

Setelah reformasi bergulir, ternyata mental orde baru masih terus dipelihara. Mental anarkis dengan menggunakan dalil menghapuskan komunisme seperti yang ditunjukkan oleh FAKI dan FKPPI. Ormas-ormas seperti ini, sejatinya sengaja dipelihara oleh aparat negara dan dijadikan attack dog untuk menghantam suara-suara kritis yang ada di masyarakat.

Sejauh ini, ormas-ormas itu tetap eksis, bahkan dengan leluasa bertindak melanggar hukum dan hak asasi manusia. Pemerintah seakan tidak berdaya, karena memang tidak pernah tegas menindak aksi-aksi brutal yang dilakukan oleh ormas.

Negeri ini memang sudah benar-benar rusak. Mau dibawa kemana negeri tercinta ini, jika aksi-aksi anarkis yang tidak mengindahkan demokrasi, perbaikan sejarah, serta norma hukum, tetap dilestarikan? Mari, kita pelajari sejarah dengan konteks yang baru, sehingga bisa lebih arif dalam bertindak, tidak seperti FAKI dan FKPPI.

One thought on “Welcome! Jogja Kota Preman

  1. Memang negeri ini bisa dibilang sudah amat sangat rusak ato bahkan autopilot. Kita sendiri kadang ragu siapa yg sebenarny menjalankan negeri ini? Siapa orang dibalik layar dari smua hal dinegeri ini?
    Tapi jangan lantas kita menjadi apatis soal itu, justru itu jadi tantangan kita berasama untuk mengubahnya. Kita mulai dari diri kita sendiri dan kota jogja selanjutnya. Yakinlah jika jogja bisa maka mudah juga dilakukan dikota yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s