Ulang Tahun

November sudah di pelupuk mata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, terselip ritual ulang tahun saya dalam jalinan tanggal di bulan itu. Tak perlu menyebutkan ultah ke berapa ya, rada sensi kalau bicara soal usiašŸ˜€

Berbicara tentan ulang tahun, saya teringat bertahun silam, sewaktu merayakan ulang tahun yang ke-5. Saat itu saya berstatus Drop Out (DO) Taman Kanak-kanak (TK). Ceritanya, sewaktu usia saya belum genap 5 tahun, dan masuk ke TK Maria Goretti Kupang, NTT, ternyata saya dikelompokkan dalam kelas Nol Besar.

Kata mama, semestinya saya masuk di kelas Nol Kecil. Tapi apa boleh buat, saya harus duduk di kelas yang tidak saya inginkan. Selang seminggu, semua masih baik-baik saja, meskipun dalam hati masih merasa kurang nyaman. Memasuki bulan kedua, kalau tidak salah, saya mulai rewel dan puncaknya, suatu pagi, ketika diantar ke sekolah, saya enggan bergabung dengan teman-teman yang telah berbaris di halaman sekolah dan lebih memilih berada dalam gendongan mama.

Ya sudah, apa boleh buat, akhirnya mama pun mengambil keputusan untuk mengistirahatkan saya di rumah. Selama masa-masa ‘liburan’ itu, saya merasa happy, tanpa beban dan bebas bermain. Seingat saya, ketika kakak-kakak saya bersiap ke sekolah, saya masih lelap tertidur dan baru terjaga pukul 08.00 WIB. Saat itu, kebiasaan ketika membuka mata, kata pertama yang saya ucapkan adalah mama, sembari menjulurkan tangan minta digendong.

Beberapa teman yang sudah bersekolah, ketika itu, sempat mengejek saya karena tidak bersekolah. Tapi namanya juga anak-anak, sindiran itu tidak saya tanggapi.

Nah ketika berulang tahun yang ke-5 itulah, sang master of ceremony (MC) yang tidak lain adalah tante saya, mengatakan kepada teman-teman yang hadir bahwasannya setelah merayakan ulang tahun, saya akan rajin ke sekolah. Perkataan itu saya amini dengan menganggukkan kepala.

Ada juga hal lucu yang terjadi saat perayaan ulang tahun tersebut. Setelah menyanyikan lagu panjang umur, sampailah pada acara penipuan lilin ulang tahun berwarna merah, yang digunakan secara bergilir saat ultah kakak-kakak, saya dan juga adik saya.

Ketika hendak meniup lilin, salah seorang teman, kalau tidak salah namanya Andri Djawa, yang terkenal bengal, terlebih dahulu meniup lilin tersebut. Sontak saya geram dibuatnya, tapi karena telah disambut tepuk tangan yang meriah, kegeraman itu bisa dibendung.

Ya itulah sekelumit kisah ulang tahun saya yang ke-5. Kini ritual tersebut bakal kembali saya lakoni. Semoga ada sesuatu niat yang sungguh-sungguh, untuk memperbaiki hidup, ketika hari ultah itu dirayakan, dalam hati saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s