Pulang

Lampu-lampu mercuri menyala, berderet tanpa celah sepanjang jalan tol dari Bandara Soekarno Hatta hingga Cawang. Hari itu, Minggu 20 Oktober 2013.

Temaram lampu-lampu tersebut menghadirkan nuansa tersendiri yang mendorong aku makin jauh tenggelam dalam lamunan, meski wanita yang saya sebut pacar, sebelum jadi calon istri, terus berceloteh tentang hubungan persaudaraannya dengan seorang klerus.

Di langit, di sela-sela gedung pencakar langit, bulan bersinar penuh, meski kadang terkesan malu-malu karena diselimuti mendung. Bulan itu juga yang kulihat sehari sebelumnya di tepi Pantai Kebis, Larantuka, Flores Timur, NTT, kampung halamanku.

Bulan yang berperan layaknya kunci, membuka berbagai kotak kenanganku akan rumah, beserta penghuninya. Beberapa jam sebelumnya, di Bandara Gewayang Tana, Desa Watowiti, Kecamatan Ile Mandiri, Flores Timur, sesaat sebelum meninggalkan tanah leluhur, mataku tertuju ke pagar yang memisahkan terminal penumpang dan parkiran.

Di sudut pagar, terlihat Tasya, bocah 5 tahun, berdiri dengan wajah sendu. Tangannya kukuh memegang teralis pagar. Ponakanku itu mulai memahami arti sebuah pertemuan dan perpisahan.

Beberapa hari sebelum kepergianku, dia nampak makin manja padaku. “Endong” begitu istilahnya ketika minta digendong. Dia nampak sangat menikmati ketika bersama 2 temannya, Putri dan Tessa, secara bergiliran aku gendong di pundakku.

Dua hari berturut-turut, aku menemaninya dalam pentas marching band TK-nya. Dia bahkan sudah menyiapkan tas mungil berwarna merah muda, berisi satu potong pakaian, 2 lembar karcis pakir yang disangka tiket pesawat, dan berujar ingin ikut ke tanah perantauan. Pantas saja, wajahnya bermuram durja ketika menyadari tidak bisa turut menumpang pesawat yang sama denganku.

Kepulangan kali ini, setelah 4 tahun lamanya, terasa spesial, karena menjumpai semua penghuni rumah dalam keadaan sehat.

Kakak perempuan beserta suaminya masih sehangat dan semesra sewaktu mereka pertama kali membangun bahtera rumah tangga. Mereka pun nampak makin sukses secara finansial.

Begitupun dengan bapak. Dia terlihat sehat tapi nampak makin berumur. Senyum khasnya yang meneduhkan tidak berubah, hanya saja gaya rambutnya sedikit berubah, karena pola sisiran diarahkan dari belakang ke depan, bertolak belakang dengan kebiasaan dulu yang berpola dari depan ke belakang.

Selama sepekan di rumah, hanya sekali aku masuk ke dalam kamar tidurnya. Interiornya masih sama. Tempat tidur lebar membentang menghadap ke sisi timur, di sisi utara berderet beberapa meja dan lemari ada di sisi timur. Bahkan kain sprei biru yang saat itu menyelimuti ranjang,  masih merupakan salah satu sprei yang sama ketika aku pulang beberapa tahun silam.

Walau masih sama, kamar itu terasa sunyi. Sejak kepergian mama 5 tahun silam, kamar, bahkan rumah, dan juga hati suami dan anak-anaknya terasa sepi.

Di kamar itulah, bapak menghabiskan hari demi hari seorang diri, tanpa ditemani rekan cerita dan berbagi sekaliber mama. Di masa-masa akhir jelang kepergian mama, bapak tetap berkeinginan membawa mama ke Surabaya dengan harapan ada suatu mujizat yang terjadi. Tapi mama terlalu lemah secara psikologis untuk bangkit sehingga lebih memilih berdiam diri di Larantuka, tanah kelahirannya.

Dari jendela taksi, kulihat bulan masih bersinar penuh dengan cahaya muram. Tanpa disadari, butiran air mata berderai di sudut mataku. Makin deras justru di saat ingin kuredam.

Ah, aku tak paham apa yang kutangisi. Rupanya aku tak sekuat dan setegar bapak. Mungkin dalam hati dia menangis, ketika mama pergi, tapi setetes air mata belum pernah kulihat menggantung di matanya.

Kepulanganku untuk yang kesekian kali ini, bukannya memupus, justru makin menebalkan rasa rindu akan rumah. Rindu pada kakak dan keluarganya, rindu pada Pohon Mahoni yang ditanam di lahan warisan kakek buyut, dan rindu pada pria kecil berkulit gelap dan pekerja keras, yang kusebut bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s