Kemanakah Budaya Diskusi Itu?

Semalam, Jumat 13 September, Forum Batu Tulis, sebuah muara pertemuan para intelektual muda Nusa Tenggara Timur di Kota Jogja, mengadakan sebuah diskusi yang cukup menarik, membahas tentang manajemen media selayang pandang.

Hadir sebagai pemateri, Berno Beding, putra Lamalera, Lembata yang tengah mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Dia pernah berkecimpung di dunia media sebagai wartawan Flores Pos. Sadangkan moderator Bung Max, mahasiswa pascasarjana salah satu perguruan tinggi di Jogja.

Diskusi itu mengupas tentang manajemen media mulai dari struktur organisasi media, jurnal, buletin dan sebagainya. Saya agak terlambat menghadiri diskusi tersebut. Namun meski demikian, kesan yang saya tangkap, suasana perbincangan begitu cair, sehingga memudahkan transfer pengetahuan.

Diskusi semacam ini, meskipun dalam skop yang kecil, tapi penting untuk dilakukan karena melalui diskusi, semua peserta sama-sama belajar tentang suatu pokok persoalan. Tapi, apa lacur, diskusi kecil semacam ini, yang merupakan salah satu barometer pendidikan, mulai menghilang.

 Padahal, Jogja dipenuhi rimbunan hutan lembaga pendidikan. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa para intelektual muda saat ini enggan untuk berdiskusi sebagai ajang membagi ilmu pengetahuan, melatih berpikir dan berbicara secara runtut, serta melahirkan gagasan-gagasan baru nan segar.

 Seingat saya, 10 tahun silam, saat pertama kali datang ke kota ini untuk berkuliah, di kampus-kampus banyak ditmeui kumpulan mahasiswa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, duduk membentuk lingkaran. Ternyata mereka tengah berdiskusi tentang suatu pokok persoalan. Sekarang, hal tersebut sangat jarang dijumpai.

Budaya berdiskusi yang semestinya didorong oleh pihak kampus agar tetap eksis justru tidak didorong oleh petinggi-petinggi kampus. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwasannya para petinggi kampus itu tidak memiliki visi pendidikan yang jelas. Mereka sekedar menjalankan lembaga pendidikan sebagai sebuah pabrik pencetak sarjana yang hanya fokus pada upaya mengejar nilai ijazah yang tinggi.

Karena itu, siapa saja yang masih berstatus mahasiswa, kaum intelektual muda, yang kebetulan membaca artikel sederhana ini, mulailah berpikir, kemudian berbincang dengan rekan-rekan seide, untuk menumbuhkembangkan budaya berdikusi. Yakinlah, banyak ilmu yang bisa diperoleh dari kebiasaan tersebut.

One thought on “Kemanakah Budaya Diskusi Itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s