Warung Se’i, Penawar Rindu Perantau Asal NTT

proses pembuatan se'i

proses pembuatan se’i

paket komplit se'i

paket komplit se’i

Bae sonde bae
Tana Timor Lebe bae
Bae sonde bae
Tana Timor lelebo

Itulah penggalan lagu Bolelebo yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Lagu itu sering didendangkan para perantau asal Bumi Flobamora (Flores Sumba Timor dan Alor) di mana saja mereka berada, termasuk di Jogja. Sering dinyanyikan ketika kerinduan akan kampung halaman nan jauh di sana menyeruak.

Akan tetapi, tidak selamanya ungkapan kerinduan akan kampung halaman dilakukan dengan mendendangkan lagu. Mencicipi sajian dari NTT bisa menjadi obat penawar rindu yang cukup manjur salah satunya di Warung Se’i, Jalan Kedaung, Nologaten, Caturtunggal, Sleman.

Belum lama ini,saya berkesempatan mengunjungi warung yang dikelola oleh kaum muda tersebut. Seperti namanya, Warung Se’i memang menyediakan menu unggulan daging se’i khas Pulau Timor, NTT. Se’i merupakan daging, umumnya sapi dan ada juga babi (bagi warga NTT non musilm) yang diasapkan selama beberapa jam di atas kayu kesambi (Schleichera oleosa) agar melahirkan aroma dan rasa yang khas dengan campuran bumbu tertentu seperti garam. Daging yang sudah menjadi se’i ini awet hingga berhari-hari lamanya.

Selain sajian utama itu, ada juga makanan pendukung berupa Sop Brenebon yang juga khas NTT dan kawasan timur lainnya. Sop ini berisi kacang merah serta daging iga yang masih menyatu dengan tulang.

Masakan ini sejatinya berasal dari Negeri Belanda yang kemudian diadaptasikan ke Indonesia selama masa kolonial berabad-abad yang lampau. Bumbu sup ini pada umumnya terdiri dari bawang putih, pala serta merica.

Biasanya bahan daging dicuci dan direndam semalaman kemudian direbus hingga empuk. Setelah itu d bumbu dimasukkan serta sering ditaburi irisan daun bawang.

Se’i dan sop tersebut belum lengkap rasanya jika tidak ditemani tumisan sayur kangkung yang dicampur bunga pepaya. Ada juga sambal ulik (uleg) bagi para penikmat rasa pedas yang menggelegar.

Inosensius Pay, Manajer Warung Se’i menceritakan di Jogja selama ini jarang ditemukan warung yang menyediakan menu khas NTT. Niat untuk mewujudnyatakan warung itu sudah muncul di benak beberapa perantau daerah tersebut yang menetap di Jogja. Hanya saja keinginan ini baru terlaksana kurang lebih dua bulan belakangan.

“Setelah ramai-ramai kejadian di Cebongan [Penyerangan Lapas], ada kerabat kami, asal NTT yang berdomisili di Jakarta. Namanya Ivan Bethan. Dia sejak dulu memang punya impian untuk membuka warung di Jogja dengan sajian khas daging se’i,” tutur Ino, panggilan akrabnya di sela-sela melayani para pengunjung.

Perancanaan bisnis pun segera dilakukan salah satunya dengan melakukan over kontrak lokasi warung dari kenalan yang hendak mudik ke Sumatera. Awalnya mereka mengalami kendala bahan baku, khususnya kayu kesambi yang jarang ditemui di Jogja.

Tapi berbagai tantangan itu kemudian teratasi setelah mendapat pasokan kayu kesambi dari wilayah Gunungkidul, yang kontur alamnya sangat mirip dengan wilayah NTT. Mereka juga sengaja ‘mengimpor’ pakar daging se’i langsung dari Ibukota NTT, Kupang yang selama satu bulan mengajarkan teknik pengasapan sehingga menghasilkan daging yang bercita rasa.

“Awalnya kami memang mengincar segmen warga NTT yang berada di Jogja. Tapi seiring waktu, masakan khas ini mendapat sambutan dari warga warga dari luar NTT, termasuk dari masyarakat Jogja sendiri. Ya selain karena rasa gurih dan empuk yang khas, harga satu paket komplit Rp18.000 cukup terjangkau,” tambah Ino.

Gabriel, salah seorang turis blasteran Spanyol-Italia yang berkunjung ke warung tersebut mengaku sangat menikmati masakan se’i. Terasa nikmat saat mengunyah, kata pria ceriwis tersebut. Bule yang tengah baru saja mengunjungi Candi Borobudur itu mengaku kemungkinan besar dia akan kembali lagi ke Warung Se’i untuk menikmati kembali masakan itu.

Umumnya, warung tersebut ramai dikunjungi saat jam makan siang, sekitar pukul 12.00 WIB. Malam minggu dan hari minggu juga menjadi hari yang sibuk bagi tujuh karyawan di tempat tersebut.

“Ke depan kami juga berencana menambah menu seperti nasi goreng se’i serta live music. Hal itu masih kami bicarakan dengan pemilik usaha,” tambah Ino yang saban hari menunggui warung itu sejak pukul 10.00-22.00 WIB.

Menikmati daging empuk di tempat itu sanggup memuaskan bukan hanya rasa lapar semata, tapi juga keinginan untuk kembali ke tanah tumpah darah. Sayang, hingga kini di Warung Se’i belum ada menu se’i universal yang bisa disantap oleh semua golongan pemeluk agama.

One thought on “Warung Se’i, Penawar Rindu Perantau Asal NTT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s