Mengenang Flores Pos

Hari ini 9 September 14 tahun silam, berdiri sebuah surat kabar di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang dikenal dengan nama Flores Pos. sebuah koran yang saat ini sepertinya sudah almarhum. Tulisan ini saya dedikasikan untuk media yang cukup mengharubirukan dan membantu memberikan pencerahan bagi masyarakat setempat.

Saya masih ingat saat itu duduk di bangku SMP Kelas 2 tepatnya. Saat mengikuti perayaan misa di gereja, ada pengumuman tentang lahirnya surat kabar yang berpusat di Kota Ende tersebut.

Sambutan masyarakat Flores terhadap Flores Pos yang secara tidak langsung juga diasuh oleh Kongregrasi Serikat Sabda Allah (SVD), saya kira cukup baik. Selama bertahun-tahun, surat kabar dengan bentuk mini seperti tabloid tersebut mampu menandingi kedigdayaan Pos Kupang (Grup Persda Kompas) yang sudah eksis beberapa tahun sebelumnya.

Dari sisi pemberitaan, gaya Flores Pos menghantam tanpa tedeng aling-aling. Tidak jarang, para pejabat di daerah yang diduga melakukan KKN, ketar-ketir dibuatnya. Saya ingat sewaktu di bangku SMA, koran tersebut mengambil posisi cukup lugas dalam kasus dugaan korupsi bupati yang berkuasa saat itu (2000-2005).

Meski demikian, dari sisi pemberitaan terkadang, saat itu, masih belum memenuhi standar penulisan berita seperti media-media nasional yang sudah eksis sebelumnya. Tidak jarang dalam sebuah berita hanya bersumber pada satu narasumber. Tentunya hal itu tidak mengakomodir prinsip check and balances.

Untuk hal yang satu itu, ayah saya pernah “menjadi korban”. Suatu ketika, reporter Flores Pos menulis tentang lampu pelabuhan (lampu mercuri) yang tidak dinyalakan semuanya sehingga menyebabkan kesan gelap di malam hari. Narasumbernya anonim.

Seingat saya, narasumber itu mengatakan setiap orang yang masuk ke dalam areal pelabuhan dikenakan retribusi masuk. Kemana saja uang retribusi itu sampai-sampai lampu di pelabuhan tidak dinyalakan, atau hanya dinyalakan setiap kali ada kapal yang masuk di waktu malam.

Ya tentu saja berita itu cukup mengagetkan karena ayah saya tidak diberikan kesempatan konfirmasi. Sehari setelah berita itu terbit barulah ayah saya mendapatkan kesempatan hak jawabnya. Lampu-lampu tersebut tidak dinyalakan karena menyerap arus listrik yang besar sehingga jika dinyalakan semuanya tagihan listrik akan semakin membesar, tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan yang digelontorkan pemerintah pusat.

“Sedangkan terkait retribusi itu sepenuhnya kami setorkan ke kas negara. Nanti akan dikembalikan dalam bentuk biaya operasioanl di tahun anggaran berikutnya. Jadi retribusi tidak langsung kami gunakan, tapi diolah terlebih dahulu oleh negara,” kata ayah saya, kurang lebih seperti itu.

Secara garis besar Flores Pos tumbuh dengan semangat melayani yang membara. Meski demikian, modal yang kuat menjadi salah satu kunci eksistensi suatu media dan Flores Pos tidak memiliki itu. Koran yang tumbuh dari benih idealisme itu kukuh menolak investor yang bisa dimanfaatkan untuk membeli mesin cetak jarak jauh.

Alhasil, koran yang hanya dicetak di Ende, harus didistribusikan ke seluruh pelosok Flores, bahkan hingga ke Lembata. Koran terbitan pagi, sampai ke tangan pembaca di Kota Larantuka sore bahkan malam hari.

Setelah meninggalkan Flores 2003 silam. Praktis saya kehilangan kontak dengan Flores Pos. melalui internet, saya mendapat informasi koran tersebut mendapatkan program bimbingan dari Swiss Contact. Bimbingan yang dilakukan Andreas Harsono, seorang jurnalis yang sudah eksis sejak zaman kuliah di Universitas Kristen Satwa Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.

Bimbingan tersebut berupa teknik penulisan berita ekonomi, liputan grass root, dan iklan sebagai sumber pendapatan surat kabar. Dalam hati, saya gembira karena itu pertanda Flores Pos akan makin berkualitas sehingga lebih mencerahkan masyarakat.

Akan tetapi, persaingan surat kabar, khususnya dari kompetitor yang berkocek tebal tidak bisa dihindari. Semakin hari, Flores Pos makin terdesak oleh Pos Kupang, yang sudah memiliki mesin cetak jarak jauh dan ditempatkan di Kota Maumere. Otomatis distribusi koran yang bermarkas di ibukota NTT tersebut dengan mudah menyapa masyarakat Flores.

Sekitar tahun 2005, saat liburan, saya kembali ke Flores. Sesampai di sana, saya kesulitan mencari koran Flores Pos. padahal semasa SMA, mudah sekali mencari koran tersebut. Dua tahun berikutnya pun demikian, saya kesulitan mencari koran tersebut. Puncaknya 2009, koran itu hilang dari peredaran karena beberapa masalah.

Sayang sekali, media yang cukup fantastis tersebut, menurut ukuran saya tentunya, harus gulung tikar. Terpaksa berhenti, padahal cita-cita berdirinya Provinsi Flores yang digadang-gadangkan media tersebut belum juga tercapai.

7 thoughts on “Mengenang Flores Pos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s