Cerita Tentang Ospek (2)

Masih dalam suasana Ospek Mahasiswa yang lagi marak saat ini, saya kembali mengenang masa-masa yang telah lampau, saat status pasca-lulus SMA tersebut. Tidak terasa cerita ini sudah mulai usang, dimakan waktu 10 tahun lamanya.

Seingat saya, saat itu kegiatannya dimulai pagi-pagi buta. Karena itu sebagai peserta, saya terpaksa bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan diri. Celakanya, saya kesulitan mencari warung yang menjual sarapan pagi, agar saat berkegiatan, perut tidak keroncongan yang bisa melahirkan petaka, semaput misalnya.

Di Jogja, jamak ditemui warung yang disebut burjo. Tidak seperti saat ini di mana setiap warung burjo pasti terhidang menu nasi telor, 10 tahun silam, warung burjo biasanya hanya menjajakan bubur kacang hijau serta mie instan baik rebus dan goreng.

Apa boleh buat, terpaksa dua menu itulah yang menghiasi sarapan pagi saya selama sepekan pelaksanaan ospek. Sebenanrya ada juga warga yang menjual gudeg, tapi lantaran masih baru, saya tidak mengetahui lokasi berjualan serta waktu yang mepet sehingga tidak sempat hunting sarapan lain.

Setelah selesai sarapan, saya dan beberapa teman segera menuju ke kampus. Saat ospek tingkat universitas, kami harus menumpang bus karena jarak dari kost yang agak jauh. Saat itu belum ada bus Trans Jogja sehingga kami hanya mengandalkan bus dan angkot biasa yang kadang jalannya lambat, tapi kadang ugal-ugalan.

Saat ospek, tentu saja kami dilarang membawa ponsel. Tapi ada juga teman yang bandel dan nekat membawa alat komunikasi tersebut. Akibatnya disita oleh panitia dan dikembalikan saat ospek berakhir di petang hari.

“Sialan, rupanya yang sita ponsel saya malah asyik ber-sms ria dengan pacarnya. Ini bukti-bukti sms mereka masih ada di inbox,” kata teman saya saat itu.

Kala itu, ponsel tercanggih masih jenis poliponic. Harganya pun luar biasa, bisa sampai sejuta rupiah. Suatu angka yang menurut saya cukup fantastis mengingat uang kiriman dari orangtua yang tidak seberapa.

Ketika ospek selesia di sore hari, kami harus segera kembali ke rumah untuk secepat kilat menyelesaikan tugas yang diberikan hari itu. Pasalnya, besok pagi, tugas-tugas tersebut harus segera dikumpulkan. Jika tidak menyelesaikan tugas, hukuman siap menanti, bisa dalam bentuk fisik, push up dan sebagainya.

Saat pulang ospek itulah, saya punya cerita unik. Bergaya sok tahu, saya nekat menumpang bus kota. Tapi ternyata bus tersebut bukan jurusan ke arah kost saya. Alhasil, saya pun sempat nyasar, tapi akhirnya bisa kembali ke kost.

Ya itulah cerita saya mengennang ospek dulu. Nantikan cerita ospek selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s