Cerita Tentang Ospek (1)

Saat ini masih musim mahasiswa baru mulai berinteraksi dengan kampus dalam kegiatan Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek). Saya kemudian mengenang beberapa pengalaman Ospek yang saya alami 10 tahun silam.

Zaman itu, durasi pelaksanaan ospek di kampus saya berlangsung selama 1 minggu dengan porsi 5 hari di tingkat universitas, 1 hari di tingkat fakultas dan 1 hari di tingkat jurusan.

Sewaktu di tingkat universitas, saya terkesan dengan salah seorang teman, yang berasal dari luar Pulau Jawa. Dia begitu aktif bertanya dan mengemukakan pendapat. Selidik punya selidik, ternyata dia mengambil jurusan yang sama dengan saya.

Di tingkat fakultas, si teman ini juga tetap tampil trengginas, rajin bertanya dan mengemukakan pemikirannya dalam sesi tanya jawab serta komentar. Begitu pula di tingkat jurusan. Tapi pada tingkat ini, ada suatu cerita lucu yang terselip dan kadang bila dikenang membuat saya tertawa agak terpingkal-pingkal.

Ceritanya saat ospek di tingkat jurusan, ada sesi di mana para peserta diberi waktu berinteraksi dengan para pimpinan jurusan dan dosen untuk menanyakan hal apa saja yang berhubungan dengan kuliah di jurusan tersebut. Sebelumnya, ada sedikit pemaparan dari pimpinan jurusan.

Tibalah sesi interaksi. Beberapa peserta maju ke depan dan mulai bertanya, termasuk rekan saya yang aktif ini. Tanpa diduga, dia bertanya, apakah bisa setiap semester, mahasiswa bisa berganti jurusan? Gubrak..what the hell??.

Tentu saja jawabannya tidak.kalau berganti mata kuliah so pasti, tapi berganti jurusan?. Nah jawaban tidak itu sepertinya mengecewakan semangat rekan tersebut untuk berkualiah. Dia terlihat lesu. Terbukti, setelah selesai masa ospek, dia tidak pernah muncul di kampus untuk mengikuti perkuliahan.

Apa yang bisa dipetik dari cerita singkat ini? Untuk berkuliah, sebaiknya sebagai langkah awal kita harus menentukan, ingin berkualiah jurusan apa. Apakah jurusan itu sesuai dengan minat, kemampuan serta biaya yang dimiliki?. Setelah itu kumpulkan informasi terlebih dahulu perihal jurusan yang akan kita pelajari, dan kampus mana saja yang menyelenggarakan jurusan tersebut.

Seturut pengalaman saya, kebanyakan rekan dulu, tidak mengumpulkan informasi secara lengkap sehingga setelah mengikuti perkuliahan mereka kemudian kecewa karena dianggap tidak menarik, atau tidak cukup cakap mengikuti ilmu berbagai materi. Buntutnya mereka tidak bersemangat sehingga jarang mengikuti perkuliahan ujung-ujungnya drop out, atau pindah ke kampus dan jurusan lain.

Ada pengalaman menarik bagaimana seorang teman yang berasal dari jurusan bahasa dan IPS saat SMA, nekat mengambil jurusan Teknik Sipil yang sejatinya merupakan ilmu fisika terapan dengan berbagai perhitungan yang rumit. Lulusan jurusan IPA sewaktu SMA saja mengaku jurusan teknik sipil sangat rumit, apalagi yang berasal dari IPS atau bahasa?.

Karena itu, kenali diri sendiri, sebelum berkuliah karena kuliah bukanlah barang mainan, tapi salah satu pintu menuju masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s