Tadi siang, saat dalam perjalanan menuju lokasi kerja, saya melihat ada sepasang muda-mudi yang cukup mencolok. Yang pria, terlihat seperti berasal dari luar negeri sementara yang wanita, gadis lokal yang mengenakan pakaian mini serta kacamata hitam.

Melihat fenomena tersebut, saya teringat akan pengalaman saya beberapa waktu yang lampau. Ada beberapa, tidak bisa dikatakan signifikan, wanita kenalan saya yang tergila-gila dengan pria bule. Mereka rela melakukan apa saja agar bisa menjalin hubungan asmara, syukur-syukur menikah dengan orang asing.

Jika berhasil mendapatkan pasangan pria asing, saya melihat ada perasaan jumawa dalam diri para wanita tersebut. Saya jadi teringat akan isi buku Petite Historie jilid pertama yang ditulis begawan jurnalis Indonesia, Rosihan Anwar.

Dalam buku itu, dia menceritakan beberapa fenomena zaman kolonial Belanda di mana para wanita lokal merasa status sosialnya terangkat setelah menikah dengan perwira atau pengusaha asal Negeri Belanda.

Dalam sebuah acara pesta, para wanita lokal itu saling bersaing satu sama lain, dalam hal busana serta perhiasan untuk membuktikan diri siapa yang paling pantas atau siapa yang paling mewah.

Ya secara tidak langsung fenomena ini menjelaskan orientasi orang Indonesia kebanyakan terhadap hal-hal yang berbau asing. Hal-hal yang dianggap berasal dari barat kebanyakan langsung diserap dan dipraktikkan.

Lihat saja, orientasi musik dan film Indonesia kebanyakan berkiblat pada asing. Orang Indonesia hampir tidak pernah menciptakan style tertentu yang menjadi kiblat bagi negara lain. Belum lagi jika kita melihat style fashion, makanan dan sebagainya. Lengkaplah sudah bangsa ini disebut negeri fotokopi.

Kembali ke soal wanita Indonesia yang gemar berburu pria asing, saya juga pernah membaca sebuah artikel pada suatu majalah tentang perasaan wanita Indonesia yang menikah dengan pria bule. Ada yang senang, tapi ada yang kapok atau merasa tidak nyaman.

Apa pasalnya merasa tidak nyaman? Karena orang barat bersifat individualistik. Mereka jarang berkomunikasi dengan saudara atau kerabatnya. Kondisi itu bertolak belakang dengan perilaku orang Indonesia kebanyakan yang guyub.

“Saya merasa tidak nyaman karena tidak mengenal keluarganya secara menyeluruh. Hal itu sungguh menyiksa karena saya berasal dari situasi di mana kita harus mengenal kerabat secara luas,” tutur sang wanita dalam artikel tersebut.

Ya itulah, fenomena di Indonesia. Jadi, berada di posisi manakah Anda saat ini?

Advertisements