Cerita Tentang ATM BRI

Barusan, sepulang dari lokasi kerja, saya menemui cukup banyak ATM BRI di tepi jalan. Sebenarnya anjungan tempat orang mengambil uang tersebut selalu saya temui setiap hari saat berangkat ke lokasi kerja, tapi baru kali ini saya menyadari ternyata mudah sekali menemukan ATM BRI di kota ini.

Saya jadi teringat sektiar 10 tahun silam, sewaktu datang ke Jogja untuk menuntut ilmu. Kala itu, sulit menemukan ATM BRI. Maklum, saat itu yang menjamur justru BNI serta BCA disusul Mandiri.

Untuk menarik uang kiriman orangtua, melalui ATM, saya harus menumpang bus kota jalur 10, dari Babarsari, kemudian turun di perempatan Gramedia. Setelah itu jalan kaki sekitar 300 meter ke Kantor BRI Terban yang banyak ATM-nya.

Paling mengenaskan jika tanggal mulai tua, di mana persediaan uang menipis. Biasanya, para kaum terpelajar a.k.a mahasiswa memilih untuk mengambil uang di ATM dengan pecahan kecil. Biar lebih hemat katanya. Zaman itu, masih ada ATM dengan uang pecahan Rp20.000

Ada pengalaman mengenai hal ini. Suatu ketika, uang di dompet benar-benar ludes. Bahkan untuk menumpang bus kota pun, saya tidak memiliki ongkos. Di ATM saldo masih tersisa sektiar Rp50.000 (dulu saldo minimal bisa mencapai Rp10.000).

Mau tidak mau, terpaksa saya berjalan kaki dari Babarsari ke Terban, dengan tujuan untuk mengambil uang pecahan Rp20.000 itu.rasa lapar dan dahaga, terpaksa saya tahan, dan terus memaksakan kaki berjalan di siang bolong, demi mengambil uang.

Setelah menempuh jarak sektiar 6 kilometer, akhirnya sampai juga saya di ATM tersebut. Langsung saja, saya menarik uang Rp40.000 dengan pertimbangan agar tidak harus kembali ke ATM lagi.

Setelah itu langsung mampir di sebuah warung angkringan, memesan segelas es tehh manis, lalu makan beberapa bungkus nasi kucing untuk menghilangkan dahaga serta lapar. Selanjutnya, berjalan kaki terus ke selatan, arah boulevard UGM, kemudian menumpang angkutan Colt Prambanan untuk kembali ke Babarsari.

Itulah pengalaman masa lalu. Meskipun penuh penderitaan, ada cerita tersendiri yang terasa manis saat dikenang. Saat ini, ATM BRI ada di mana-mana sehingga semangat perjuangan untuk menggapai ATM terasa berbeda dibandingkan zaman dulu.

2 thoughts on “Cerita Tentang ATM BRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s