Belakangan ini saya jadi berurusan dengan salah satu anak usaha dari bank plat merah terbesar di Indonesia. Saya kerap ditelepon oleh para karyawannya yang menawarkan fasilitas kredit tanpa agunan dengan bunga flat 1%.

Awalnya tawaran itu saya anggap sepi. Buat apa juga saya meminjam uang padahal belum ada kebutuhan yang mendesak. Namun beberapa hari ini, saya mulai tergiur fasilitas kredit tersebut karena ada kebutuhan mendesak yang membelalakan mata.

Ya sebelumnya, saya dan pacar sudah merencanakan untuk membeli sebidang tanah. Secara keseluruhan total anggaran yang kami butuhkan sekitar Rp90 juta, sudah termasuk pengurusan surat-surat.

Apa boleh buat, setelah berdiskusi cukup panjang dengan pacar, akhirnya kami pun memutskan untuk meminjam dana segar tersebut. Besarnya tidak perlu saya sebutkan di sini, malu takut bisa dibilang sombong.

Dengan penuh keramahan, Mariskan, marketing unit usaha tersebut begitu ramah dan rela datang ke kantor saya padahal waktu sudah menunjukkan bukan jam kerja lagi. Ya dia rela jatuh bangun pontang-panting demi mengejar target yang ditetapkan pimpinannya.

Setelah melengkapi berbagai persyaratan yakni Surat Keputusan (SK) pengangkatan saya sebagai karyawan tetap, fotokopi KTP dan kartu keluarga, slip gaji terakhir, serta menjaminkan Kartu Jamsostek, saya kemudian dihubungi pihak bank tersebut dari Jakarta. Singkat cerita, siang harinya, dana segar tersebut segera masuk ke rekening saya.

Dalam hati, saya berpikir, memang semestinya unit usaha tersebut mengincar posisi kalangan pekerja untuk menyalurkan kredit dengan besaran tertentu. Pasalnya, dua tahun lalu, saya pernah mendengar keluhan lembaga keuangan mikro seperti BMT yang mengeluhkan mereka harus bersaing dengan bank-bank besar yang juga agresif mendekati para pedagang kecil untuk menyalurkan kredit.

“Semestinya pemerintah mengatur bahwasannya lembaga keuangan besar menyalurkan kredit untuk besaran belasan hinggap uluhan juta, sementara di bawah Rp10 juta sebaiknya diberikan kesempatan bagi lembaga keuangan mikro. Tapi padakenyataanya mereka juga bisa mencairkan kredit mikro,” kata kenalan saya suatu ketika.

Ya inilah salah satu gambaran Indonesia, sebuah negara yang fiolosif ekonominya adalah kesetaraan serta perlindungan terhadap yang lemah tapi pada kenyataannya yang kuat juga dibiarkan berkompetisi dengan yang kurang kuat.

Advertisements