Kisah Para Guru Yang Berbakti

ImageBelakangan ini, saya makin menyadari arti penting guru dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru, yang merupakan salah satu instrumen penting dunia pendidikan, memainkan peran maha penting untuk memberantas ketertinggalan.

Pendidikan yang berkembang baik, membuat peserta didik sanggup berpikir secara logis sehingga segala bentuk pembodohan serta ketertinggalan bisa dipupuskan. Semoga saja pendidikan di Indonesia makin maju dalam artian meneghasilkan peserta didik yang cerdas dan logis.

Para pendiri bangsa ini, rata-rata memainkan peran sebagai pendidik. Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Agus Salim merupakan sedikit dari sekian banyak pejuang kemerdekaan yang turut membuka sekolah-sekolah bagi penduduk lokal tempat di mana mereka diasingkan. Mereka benar-benar menyadari pendidikan merupakan senjata penting untuk memerdekakan bangsa.

Kembali ke soal guru, sejatinya saya berasal dari keluarga yang sering diistilahkan pahlawan tanpa tanda jasa itu. Dua opa saya (dari pihak bapak dan mama) semuanya guru. Mereka bahkan satu almamater, sebuah sekolah pendidikan guru desa atas didikan misi Katolik di Ende, Flores, pada zaman kolonial.

Selepas menjalani pendidikan tersebut, mereka berdua (lahir 1920) menjadi guru dalam usia muda, yakni sekitar 16 tahun. Selepas itu, oleh misi Katolik, mereka ditugaskan ke berbagai daerah pelosok untuk mengajar, melatih penduduk setempat baca-tulis dan berhitung.

Soal pengabdian, jangan ditanya lagi. Meski gaji selalu terlambat, bahkan hingga berbulan-bulan lamanya, mereka tetap menjalankan tugas sepenuh hati. Untuk bertahan hidup, dan atas kebaikan warga sekitar, diberikanlah sebidang tanah sempit yang bisa mereka garap untuk ditanami jagung, padi gogo, atau singkong.

Mereka berprinsip lebih baik hidup sederhana tanpa kemewahan asalkan tetap menjalankan tugas sebagai pendidik. Soal satu ini, Opa dari pihak mama, punya pengalaman unik.

Dulu, saat musim panen padi gogo, biasanya para peserta didik tidak diperbolehkan oleh orangtua mereka untuk pergi ke sekolah. Hal ini dikarenakan mereka, harus membantu orangtua memanen padi tersebut.

Suatu ketika, ada salah seorang murid yang nekat pergi ke sekolah dan mengikut pelajaran. Beberapa jam kemudian, datang orangtua murid dan menemui Opa saya, yang saat itu tengah mengajar.

Orangtua murid itu meminta izin kepada Opa saya agar anaknya diizinkan untuk tidak bersekolah karena tenaganya sangat diperlukan untuk memanen padi. Sebagai buah tangan, jika tidak ingin dikatakan menyogok, dia menghadiahi Opa saya seekor kambing gemuk.

Bukannya menerima pemberian tersebut (biasanya orang Indonesia zaman sekarang kan doyan disogok), Opa saya justru menghardik dan mengusir orangtua murid tersebut sembari mewanti-wanti agar jangan pernah datang ke sekolah untuk meminta agar anaknya tidak bersekolah.

Zaman itu, posisi guru dianggap cukup mentereng dan intelek. Orang-orang dengan profesi tersebut selalu dijadikan tempat bertanya soal apa saja oleh warga sekitar. Jika mengunjungi kampung-kampung yang lebih pelosok lagi, para guru disambut bak duta besar dan diberi tempat duduk khusus dalam suatu hajatan.

Semoga saja sedikit cerita mengenai pengalaman kedua Opa saya bisa menginspirasi semua orang, khususnya mereka yang saat ini berprofesi sebagai guru, agar bekerja dengan sepenuh hati.

Keterangan foto: Opa saya, Gabriel Fernandez berfoto bersama keluarga serta murid-muridnya di depan sekolah di wilayah Kedang, Lembata. Diperkirakan foto diambil tahun 1955.

One thought on “Kisah Para Guru Yang Berbakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s