Saya dan Dunia Literasi (2)

Begitu koran datang, cepat-cepat saya ambil. Terasa kertasnya masih hangat selepas dari percetakan. Entah mengapa, saya selalu kecanduan mencium aroma kertas koran yang masih hangat pagi-pagi. Kebiasaan itu tetap bertahan bahkan hingga detik ini.

Kebiasaan membaca selama SD itu terus membatu dalam alam bawah sadar. Memasuki SMP yang berasrama dan letaknya agak terpencil, akses informasi dari dunia luar menjadi minim. Kami hanya boleh menyaksikan televise saat sori hari, di mana biasanya tayangan kartunlah yang ditonton.

Saat itu, di Pulau Flores, NTT hadir koran baru bernama Flores Pos. Untuk kali ini, saya patut berterima kasih kepada Opa (ayah dari mama saya) yang sering bertandang ke asrama, beberapa bulan sekali, membawa oleh-oleh, selain makanan juga setumpuk koran bekas Flores Pos dan Mingguan Dian.

Tak pelak lagi, koran-koran bekas itu segera saya lahap, membaca apa saja yang tertulis di dalamnya. Ya hitung-hitung menambah informasi meskipun telat. Sayang, saat ini kabarnya Flores Pos dan Dian sudah mati suri, tergusur Pos Kupang yang memilih menginduk ke Kompas, dan dengan modal yang besar berhasil menghadirkan mesin cetak jarak jauh.

Memasuki SMA, saya sempat bersekolah di Atambua, Belu. Saat itu, saya benar-benar menikmati masa emas pers NTT yang makin menggeliat. Muncul banyak harian semisal NTT Ekspres, Sasando Pos yang dipimpin oleh ayah dari teman saya, Pius Rengka, kemudian ada Surya Timor, lalu ada Suara Timor yang digawangi dedengkot pers Wens Rumung. Untuk yang terakhir, akibat konflik dengan investor, koran itu tidak berumur panjang. Padahal dari sisi kualitas menurut saya bisa bersaing.

Setelah hijrah kembali ke Larantuka, di rumah kami, seiring peningkatan financial keluarga, berlangganan tiga koran. Pos Kupang dan Flores Pos, yang merupakan harian pagi tapi datangnya sore, kemudian Kompas yang dikirim dari Bali kalau tidak salah sehingga hadir tiga hari sekali. Artinya sekali datang, ada tiga eksemplar koran yang harus dilahap.

Saat SMA pula, jika orangtua bertugas ke Kupang, atau ke Jawa, oleh-oleh yang saya inginkan selain buah-buahan adalah buku. Bahkan saat SMA, ada buku saya yang dipinjam oleh salah seorang guru saya bernama Pak Lukas, dan hingga kini tidak pernah dikembalikan. Guru Bahasa Indonesia yang juga nyambi sebagai jurnalis itu justru membujuk saya agar buku tersebut saya ikhlaskan.

Selepas SMA dan hijrah ke Jogja untuk berkuliah, aktivitas membaca selalu lekat dengan hari-hari saya. Bahan bacaan berupa buku, dijual dengan harga yang terjangkau. Tidak hanya itu, saya juga berlangganan sejumlah koran mulai dari Kedaulatan Rakyat, Bernas Jogja, Harian Jogja, Kompas, Seputar Indonesia dan Media Indonesia.

Adapula Majalah Tempo sejak 2005 hingga 2009. Dari harganya masih Rp13.000 sampai sekitar Rp27.000. harga yang makin mahal itu memaksa saya berhenti berlangganan. Padahal, sebagian besar data skripsi saya bersumber dari majalah tersebut.

Itulah saya dengan nafsu memabca yang belum padam. Kali ini, saya tengah keranjingan membaca majalah sastra. Horison edisi Juli baru saya khatam-kan.

Saya juga sudah menghubungi pimpinan redaksi majalah sastra Sabana yang baru terbit di Jogja serta memberikan alamt lengkap kost. Dia berjanji akan meneruskan informasi ke tim sirkulasi tapi hingga detik ini tidak ada kabar berita terkait harga satuan dan langganan. Saya masih menanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s