First Lady Kita Yang Rakus

Ternyata apa yang ditulis George Junus Aditjondro dalam buku Gurita Ciekas dan Cikeas Makin menggurita, bukan isapan jempol semata. Hari ini, saya menemukan sinyal kebenaran dari buku itu, terkait nafsu bisnis orang-orang di sekitar istana.

Ceritanya, secara tidak sengaja, saya mengikuti kegiatan sosialisasi rencana pendirian pabrik pemurnian pasir besi di wilayah Kulonprogo. Dalam pertemuan itu, pihak operator pertambangan menjelaskan panjang-lebar terkait rencana pembangunan, pembebasan lahan hingga pemberdayaan masyarakat.

Saya tidak terlalu mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Toh di tangan sudah ada handout-nya. Rasa lapar yang teramat sangat, mengingat belum makan siang plus baru saja mendonorkan darah membuat konsentrasi saya buyar.

Alhasil, saya menghilang terlebih dahulu ke daerah sekitar dapur, dan menyibukkan diri dengan mengunyah beberapa potong kue saat peserta lain yang tengah berpuasa itu, sibuk mendengarkan penjelasan.

Yang menarik hati, seusai pertemuan itu, saya berbincang-bincang dengan salah seorang punggawa perusahaan pertambangan itu. Dia bercerita, Kulonprogo semestinya bersyukur perusahaan itu tidak  angkat kaki dari kabupaten itu, walau selama ini dalam perjalanan mendapat pertentangan yang tidak kalah hebat.

“Kenapa beruntung? Perusahaan kami, selalu dibujuk first lady, agar pindah ke wilayahnya di Purworejo sana. Di sana juga ada potensi kandungan pasir besi,” kata pria yangsebagian rambutnya sudah beruban itu.

Saya harap pembaca sekalian memahami siapa yang dimaksud dengan first lady itu. Kembali ke cerita, pria tersebut membeberkan informasi mengapa istri sang pemimpin itu nekat merayu perusahaan pertambangan itu pindah ke Purworejo? Ternyata, di daerah tersebut, sang lady memiliki lahan seluas 40 hektare.

Bisa dibayangkan bukan berapa keuntungan yang bakal dia reguk jika pertambangan pasir besi jadi dibuka di wilayah tersebut. Cerita ini, terlepas dari kebenarannya, semakin membuka mata saya, bahwa si lady yang terlihat lugu ternyata tidak jauh dari serigala berbulu domba.

Benarlah apa yang dikatakan Goerge Aditjondro. Karena dekat dengan sumber kekuasaan, orang-orang dekat memanfaatkan keunggulan informasi dan pengaruh mereka, demi mendapatkan keuntungan dalam dunia bisnis. Rupanya negeri ini tinggal menunggu karam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s