Alibi Palsu Terdakwa Penyerbuan LP Cebongan

Gelar Ksatria yang disematkan kepada para oknum anggota Kopassus yang menjadi terdakwa dalam kasus penyerbuan ke LP Cebongan, sekali lagi perlu dikoreksi ulang. Hal ini dikarenakan gelar tersebut kadung disematkan oleh para pendukung mereka, orang-orang yang jelas-jelas tidak menghargai proses hukum.

Mengapa gelar itu perlu dikoreksi ulang? Pada beberapa artikel saya terdahulu pernah saya katakana mereka, para terdakwa, tidak pantas disebut ksatria karena tidak serta merta mengakui perbuatan mereka. Seorang ksatria tentunya akan segera unjuk diri dan mengakui kesalahannya bukan? Jika mereka ksatria, mengapa mereka berusaha menghilangkan barang bukti berupa perangkat CCTV di LP?

Gelar itu, perlu dikoreksi lagi karena dalam fakta persidangan, menurut hemat saya, para pelaku seoalah-olah membentuk opini bahwa tindakan pembunuhan, dengan cara memberondong, dilakukan atas dasar pembelaan diri karena diserang oleh salah seorang korban, Juan, menggunakan tongkat kruk.

Mereka juga membuat alibi, yang konyol di dalam persidangan yang terhormat itu. Menurut para tentara yang digaji menggunakan uang rakyat itu, sejatinya kedatangan mereka adalah untuk mencari Marcel cs, yang merupakan pelaku pembacokan terhadap anggota intel Kodim Jogja.

Tujuan itu kemudian berubah karena mereka segera menyasar LP Cebongan dengan maksud menanyakan kepada Deky Sahetapy cs, tentang keberadaan Marcel cs. Sebuah alibi yang sangat aneh.

Mengapa aneh? Pertama, karena parak orban di LP Cebongan ditangkap, sehari sebelum kejadian pembacokan yang dilakukan Marcel cs. Kebetulan saat peristiwa penusukan di Hugos Café itu, pada siang harinya, saya sempat berkomunikasi dengan Marcel.

Jadi, bagaimana mungkin Deky cs yang sudah ditangkap terlebih dahulu, bisa mengetahui keberadaan Marcel cs? Lagipula, antara Marcel cs dan Deky cs tidak memiliki keterkaitan apapun, walaupun mereka sama-sama berasal dari provinsi yang sama.

Hal ini sudah ditegaskan pengacara Marcel cs Hilarius Ng Mero, sehari setelah tim investigasi membeberkan hasil temuan mereka. Dalam publikasi itu, tim investigasi memmang mengkaitkan kejadian penusukan dan pembacokan yang hanya berselang sehari itu.

Semoga majelis hakim tidak terkecoh dengan alibi palsu para terdakwa itu. Keheranan ketua majelis yang mempertanyakan mengapa jika ingin bertanya keberadaan Marcel kepada Deky, para terdakwa harus melompat pagar LP, menodongkan senjata kepada petugas sipir dan sebagainya.

Dari perlengkapan yang mereka bawa, menjadi petunjuk kuat kedatangan para terdakwa bukan bertujuan bertanya, tapi jelas-jelas membunuh.

Akhirulalam, kembali saya tegaskan, saya juga tidak sepakat dengan segala bentuk premanisme. Tapi, pemberantasan premanisme, harus dilakukan sesuai dengan aturan hukum yang ada. Tindakan para terdakwa, mengangkangi consensus hukum, dan itu bukan perbuatan Ksatria.

3 thoughts on “Alibi Palsu Terdakwa Penyerbuan LP Cebongan

  1. ini kasus kita pernah dengar tapi tidak banyak di blow up di media massa,
    sebenernya kasus apa oom??
    sepintas kayak kasus balas dendam…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s